TNI Harus Kembangkan Konsep Sistem Pertahanan Udara

NASAMS-02
Photo Ilustrasi : Nasams (Istimewa)

Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih membutuhkan 12 unit radar Ground Control Interceptor (GCI) lagi untuk dapat mendeteksi dan melindungi wilayah Indonesia dari serangan musuh.

Pengamat Militer dan Intelijen, Susaningtyas Kertopati, mengungkapkan untuk melindungi Indonesia, TNI juga dapat mengajukan konsep kedaulatan di udara sampai dengan batas ketinggian yang diatur menurut hukum internasional dan nasional, bahkan hingga ruang angkasa.

“Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah dinamika konflik Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan, di mana dua negara yang menjadi aktor utama yaitu Korea Utara dan Cina telah mengembangkan rudal nuklir jarak jauh,” ungkapnya, Jakarta, Selasa (27/2).

Menurut perempuan yang akrab disapa Nuning itu, TNI AU harus mengembangkan konsep ‘Sistem Pertahanan Udara’ yang modern dan canggih untuk melindungi keselamatan NKRI dengan menyiapkan sistem deteksi dini dan sistem interceptor.

“Perlu dikaji kedua sistem tersebut untuk mampu menangkis datangnya rudal nuklir tersebut di luar ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif),” ujar Dosen Intelijen Maritim Universitas Pertahanan itu.

Dari faktor tersebut, Nuning menegaskan bahwa sangat penting bagi TNI AU memodifikasi Minimum Essential Force (MEF) seperti penambahan radar GCI dan radar Early Warning (EW) di seluruh Indonesia terutama bagian timur Indonesia.

Kemudian, lanjut Nuning, juga dengan menambah skuadron udara tempur agar mampu melaksanakan patroli udara rutin selama 24 jam, minimal frekuensi terbang malam sama dengan terbang siang.

“Jadi operational requirement dan technical specification kedua jenis radar tersebut tidak hanya untuk dog fight di udara antara pesawat TNI AU melawan pesawat musuh, tapi juga harus mampu dog fight pesawat TNI AU menangkis rudal nuklir,” katanya.

Seperti diketahui, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sebelumnya menyampaikan bahwa TNI AU juga masih butuh menambah radar pertahanan udara, yang saat ini jumlahnya baru mencapai 20 unit radar GCI.

Menurut Hadi, radar yang ada tidak bisa menjawab potensi ancaman yang dimiliki Indonesia, sehingga jumlahnya harus ditambah. Dengan jumlah tersebut, tidak semua wilayah kedaulatan Indonesia bisa tercakup.

Sehingga dibutuhkan penambahan 12 unit lagi. Artinya, Indonesia akan memiliki total radar GCI sebanyak 32 unit. Kebutuhan 12 unit radar GCI itu pun sudah sesuai dengan Rencana Strategi II Tahun 2014-2019.

Sumber : Akurat

Advertisements

4 thoughts on “TNI Harus Kembangkan Konsep Sistem Pertahanan Udara”

  1. Mbak Nuning ki piye to ?

    Mosok rudal balistik dilawan pakai pespur ?

    DF21 punya apogee (highest altitude / ketinggian yang dapat dicapai) setinggi 500 km sedangkan pespur Su-35 hanya bisa mencapai tinggi 18 km.

    DF21 punya kecepatan Mach 10 sedangkan pespur Su-35 hanya punya kecepatan tertinggi Mach 2 lebih dikit.

    DF21 punya manuver 25G, sedang Su-35 hanya bisa manuver 12G.

    Rudal balistik itu harus dilawan dengan rudal juga.

    S400 hanya bisa deteksi maksimum ketinggian 100 km, kecepatan Mach 6,35.

    THAAD bisa sampai ketinggian 150 km, kecepatan Mach 8,24.

    Paling bagus untuk mencegat rudal DF21 dalam hal ketinggian dan kecepatan adalah sistem rudal THAAD.

    Mbak Nuning iki nek ngomong mbok ya pakai data dulu, nek belepotan ngono ya dadine isin toh, mosok pespur kok dikon nyegat rudal balistik nuklir, pespur ki kudu nyegat pespur, rudal kudu dicegat rudal.

    Like

  2. Nih orang macam (tkg hitung bh d) lulusan west point aja, paling cuman hobi main game online…. Hadeuh, tapi serasa vet perang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s