Teknologi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) Meningkat, Sinergi Akuisisi Pertahanan Perlu Diruwat

Integrated Helmet and Display Sighting System (IHADSS), atau sistem display penglihatan yang terintegrasi dengan helm, sebuah konsep helm (agak) baru dimana peran helm diperluas untuk memberikan antarmuka yang terintegrasi secara visual antara penerbang dan pesawat terbang. Demikianlah terjemahan bebas dari Wikipedia tentang IHADSS, sebuah sistem yang terpasang pada helikopter serbu AH-64 Apache, salah satu jenis alutsista terbaru yang dimiliki Indonesia di penghujung tahun 2017 lalu.

IHADSS menggunakan pemancar infra merah pada helm penerbang Apache yang terhubung dengan kamera termografi di hidung Apache dan dengan laras senjata.

Dengan IHADSS ini, laras senjata akan bergerak sinergis dengan gerakan kepala penerbang Apache. Apapun obyek yang dilihat oleh penerbang Apache melalui helm-nya, otomatis siap dikunci sebagai sasaran tembak. Kekompakan helm dan laras senjata Apache ini sangat memudahkan penghancuran sasaran seiring helikopter bermanuver cepat, menjadikan Apache sebagai helikopter yang sangat serbu sesuai namanya, AH alias “Attack Helicopter“.

Mayjen TNI Besar Harto K mengacungkan jempol saah mencoba duduk di helikopter Apache yang memperkuat Skadron 11 Serbu di Semarang. (Chandra AN)
Mayjen TNI Besar Harto K mengacungkan jempol saah mencoba duduk di helikopter Apache yang memperkuat Skadron 11 Serbu di Semarang. (Chandra AN)

Terlepas dari nasibnya yang lagi mangkrak, di awal tahun 2017 lalu telah tiba pula di tanah air (hanya) sebuah helikopter lain yang tidak kalah canggih dari AH-64 Apache. AW-101, putra mahkota raja helikopter Westland dari Inggris dengan ratu helikopter Agusta dari Italia.

AW-101 memiliki daya integrasi paling mutakhir dari sistem avionik, navigasi, komunikasi, serta safety and security systems untuk siap mengemban berbagai macam misi dengan platform yang dimilikinya. Mulai dari troop transport, utility support, CASEVAC/MEDEVAC, ultra long combat and amphibious support search and rescue (SAR), Intelligence Surveillance and Reconnaissance (ISR), Maritime Interdiction Operations (MIO), Anti Surface Warfare (ASuW), Anti-Submarine Warfare (ASW), Airborne Surveillance and Control (ASaC), Airborne Mine Countermeasures (AMCM), dan VERTREP. Di samping kemampuan tempur tersebut, AW-101 juga dikenal memiliki stabilitas dan kenyamanan yang luar biasa sehingga memungkinkan pendayagunaan sebagai VVIP head of government and state transport.

AW-101 nomor ekor H-1001 disimpan di Skadron Teknik 021 Lanud Halim. (defence.pk)
AW-101 nomor ekor H-1001 disimpan di Skadron Teknik 021 Lanud Halim. (Roni Sontani)

Selain kedua jenis helikopter di atas, tahun 2017 yang lalu juga mencatat kedatangan pesawat tempur F-16 Blok 52ID yang merupakan retrofit dari versi F-16 sebelumnya hingga kemampuannya setara dengan pesawat tempur F-16 generasi terbaru. Sementara, Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh juga sudah melengkapi diri dengan peralatan komplet perawatan Hercules C-130 yang menjadi tulang punggung operasi dukungan Logistik, pasukan, kemanusiaan dan dukungan operasi lainnya seperti penerjunan pasukan pemukul reaksi cepat TNI.

Pada tahun 2017 ini tercatat pula kemajuan kesepakatan Rusia dengan Indonesia untuk mendatangkan jet tempur Sukhoi Su-35 guna melengkapi Su-27SK and Su-30MK2 yang telah lebih dulu memperkuat pertahanan negara.

Sukhoi yang dijuluki Flanker alias si tukang tikung ini mampu menanjak setinggi 55.000 kaki per menit, melesat dengan kecepatan 2,25 kali kecepatan suara atau hampir 1 km per detik, dan mampu menanggung tekanan hingga 9 (sembilan) kali kekuatan gravitasi. Selain dilengkapi autocannon dengan proyektil selebar lebih dari cerutu super (Gryazev-Shipunov GSh-301 30mm), si tukang tikung ini masih mampu mengangkat aneka senjata dari roket, rudal, hingga bom sampai seberat 8 (delapan) ton.

Untuk Angkatan Laut, telah tiba pula kapal selam KRI Nagapasa-403 yang merupakan produksi bareng Indonesia dan Korea. Ia mampu melaju dengan kecepatan 21 knot serta berkelana lebih dari 50 hari di bawah air. Nagapasa yang dipersenjatai delapan tabung peluncur torpedo 533 mm dan rudal antikapal permukaan ini mampu menampung 40 awak di dalamnya.

KRI Nagapasa 403 dalam rangka persiapan peringatan HUT TNI ke-72 tahun 2017 di Banten.
KRI Nagapasa 403 dalam rangka persiapan peringatan HUT TNI ke-72 tahun 2017 di Banten. (Istimewa)

Singkatnya, tahun 2017 menjadi saksi peningkatan bertahap teknologi dan postur pertahanan negara yang mengandung karakteristik pokok 1) sinergi kapabilitas seperti IHADSS, 2) fleksibilitas operasional seperti AW-101, 3) kolaborasi seperti pada Nagapasa, dan 4) pendayagunaan “existing capabilities” seperti pada F-16 Blok 52ID dan peralatan komplet perawatan C-130.

Bahkan untuk progres kesepakatan Sukhoi ada sinergi yang lebih penting untuk diangkat, yaitu kesepakatan imbal dagang dengan aneka komoditas perkebunan. Hal ini menunjukkan adanya sinergi kesejahteraan dan keamanan yang di satu sisi membantu batasan fiskal pertahanan, dan di sisi lain menerobos pasar komoditas perkebunan khususnya sawit yang selama ini sering diganjal masuk pasar Eropa.

Sayangnya, keempat karakteristik peningkatan teknologi alutsista yang dijejerkan barusan tidak serta merta tercermin dalam proses akuisisi pertahanan di tataran internal negeri sendiri.

Berbeda dengan sinergi kapabilitas seperti IHADSS, pengalaman proses akuisisi pertahanan di Indonesia rawan terhinggap deviasi antara arah penglihatan dengan alutsista yang akhirnya dibidik. Hal ini terutama sekali terlihat dalam perkembangan dan realisasi Minimum Essential Force (MEF) sejak pertama kali digulirkan hingga saat ini.

Meskipun demikian, volatilitas MEF ini masih bisa dimaklumi karena moda ancaman yang timbul dari lingkungan strategis juga sangat dinamis, dan perkembangan gaya dan teknologi alutsista pun berubah cukup cepat. Dalam konteks ini, maka perencanaan alutsista pun dituntut untuk tetap mampu beradaptasi di tengah batasan regulasi dan fiskal yang ada.

Kenyataannya, dengan elemen yang menjalar dari aspek strategis hingga spesifikasi teknis dan klausul kontrak yang mendetil, tidak akan ada satu dokumen perencanaan apapun yang akan tetap relevan hingga sekian tahun lamanya. Namun demikian, sekali suatu sistem senjata sudah diakuisisi, maka ia harus dapat berdayaguna hingga detik terakhir penugasannya, dalam pertempuran ataupun dalam daur hidup yang dapat dijangkau alutsista tersebut.

Dalam hal fleksibilitas operasional seperti AW-101, bangsa Indonesia sudah terkenal sebagai ahlinya ngulik. Jangankan menghidupkan motor tua, menerbangkan pesawat rusak pun mampu kita lakukan bertahun-tahun. Seperti kata Bung Karno dalam pidatonya “Capailah Tata Tentram Kerta Raharja” pada tahun 1951, “sapi terbang” pun masih mungkin.

Lt. Col. Beau Strap Wilkins, 514th Flight Test Squadron, puts an Indonesian F-16C Fighting Falcon into a high-g climb during a functional check flight Nov. 21, 2017, at Hill Air Force Ba
Col. Beau Strap Wilkins, 514th Flight Test Squadron, puts an Indonesian F-16C Fighting Falcon into a high-g climb during a functional check flight Nov. 21, 2017. (PACAF)

Di tengah badai embargo bertahun-tahun, alutsista Indonesia yang menua masih sanggup menopang pertahanan negara dan tentunya moral prajurit, dan bangsa secara keseluruhan.

Tapi tetap saja, sepandai-pandainya ngulik, batasan mekanis tetap ada sehingga banyak alutista kita jatuh dan rusak, alhasil bukan hanya kerugian materiil saja yang timbul, namun jelas kehilangan jiwa personil yang merupakan “the man behind the gun“.

Tanpa perlu banyak berteori, rakyat tahu bahwa para perwira ksatria di belakang alutsista inilah yang tak tergantikan, para prajurit yang juga harus berperan melebihi panggilan tugas demi menjalankan dharma baktinya sekaligus memenuhi kebutuhannya sebagai warga negara juga.

Namun sayangnya, seiring kita melihat lebih dalam kepada proses akuisisi pertahanan, jangankan fleksibilitas operasional, apalagi melebihi panggilan tugas, yang semakin menonjol malah ego sektoral dengan dalih redaksional regulasi. Cita-cita “Check and balance” melalui penataan peran dan fungsi sektoral yang menegaskan rambu kewenangan dan tanggungjawab kementerian/ lembaga dalam proses akuisisi pertahanan di Indonesia perlahan berevolusi menjadi gumpalan penyekat pembuluh darah proses pengadaan alutsista.

Kebijakan demi kebijakan terkait akuisisi dan industri pertahanan terus digulirkan bak “rapid fire pada berbagai tingkatan yuridis mulai dari Undang-Undang hingga Peraturan Menteri, dan bahkan pada tingkatan regulasi yang lebih teknis di bawahnya.

Namun ini semua hanya meninggalkan “regulatory loop-holes” yang memaksa koordinasi lebih kompleks. Sementara itu, kata kolaborasi dan koordinasi yang banyak menghiasi program-program alutsista di Indonesia kian menjadi penanda, bahwa ada bahaya laten ego sektoral di dalamnya.

N219 terparkir di di Bandara Halim Perdana Kusuma saat acara Pemberian Nama Pesawat N219 oleh Presiden RI, Jakarta, Jumat (1011). (Republika)
N219 Nurtanio (Republika)

Kita bersyukur Nagapasa menjadi kisah sukses yang kesekian kalinya, tapi tak heran untuk hal yang lebih kompleks, sebagai misal kesepakatan imbal dagang Sukhoi dengan pembukaan pasar produk sawit kita di Rusia, toh masih banyak menuai cibiran di samping kegembiraan. Seakan kita lupa bahwa dulu CN-235 kita ditukar dengan ketan.

Untuk pendayagunaan “existing capabilities” seperti pada F-16 Blok 52ID, sudut pandangnya agak sedikit berbeda. Kebanggaan menunggu Fighter Pilot Agung Sasongkojati, Zaky Ambadar, dan Basri Sidehabi cs mengantar F-16 pertamakalinya 28 tahun yang lalu tak mungkin kita rasakan kembali dengan kedatangan barang retrofit baru-baru ini.

Namun demikian, ide pendayagunaan kapabilitas yang ada ketimbang mengambil yang sama sekali baru tetap merupakan ide yang baik dan mulia. Sayangnya (lagi), pendayagunaan “existing capabilities” ini tidak mudah diterapkan untuk konteks industri pertahanan nasional (nasional artinya milik “nation“/bangsa).

Industri pertahanan nasional dewasa ini digeladi dalam alam kompetisi murni dengan orientasi yang lebih komersial termasuk upaya pendanaan melalui bank komersial.

Pasar dilebarkan ke luar negeri, sementara negeri sendiri lebih senang membeli produk impor.

Haryo B. Rahmadi, Pengajar Pasca Sarjana Universitas Pertahanan Indonesia (Istimewa)
Haryo B. Rahmadi, Pengajar Pasca Sarjana Universitas Pertahanan Indonesia. (Istimewa)

Pilihan yang memang sulit, antara ingin mandiri yang berarti harus meniti jalan panjang ke masa depan, atau ingin kuat segera yang berarti membeli barang jadi buatan luar yang memang harus diakui (sementara ini masih) lebih keren seperti AH-64 dan AW-101.

Tidak ada rumus baku untuk mengobati permasalahan dan kendala yang menggayuti dunia akuisisi pertahanan kita. Tapi semua itu cukup dibekali dengan keinginan untuk mendahulukan kepentingan yang lebih luas yang sekarang terkeping-keping oleh sekat sektoral. Dalam praktiknya, tidak ada alasan sejatinya bagi siapapun apakah itu lembaga maupun individu untuk meletakkan “Check and Balance” semata untuk kepentingan “Check and Balance” itu sendiri, layaknya orang berdebat tidak untuk mencari titik temu, namun semata, karena kegemarannya berdebat. Apalagi untuk secara nyata mengutamakan kepentingan sektoralnya. Terutama ketika berbicara pertahanan keamanan, maka tujuan finalnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang benar dan baik untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Perhatikanlah meskipun bukan si Gatot Kaca, tetapi Nurtanio sebagaimana nama yang diberikan oleh Presiden Jokowi untuk N-219 di tahun 2017 lalu, bukanlah blasteran Spanyol seperti Tetuko yang mendahuluinya. Nurtanio ini lebih kecil, berayah PT Dirgantara Indonesia asli Bandung, dan beribu Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) asli Serpong, dengan huruf “N” yang berdiri sendiri menunjukkan masih adanya cikal kemandirian itu. Dan kita berhasil menyepakati imbal dagang sawit dengan Sukhoi yang tidak dimiliki Amerika. Dan kita berhasil mendatangkan Apache yang tidak dimiliki Rusia. Untuk negara yang mampu menyinergikan kapabilitas seteru bebuyutan teknologi pertahanan global, apakah alasanmu yang sahih untuk tidak menyinergikan anggota tubuhmu sendiri?

Penulis : Haryo B. Rahmadi (Pengajar Pasca Sarjana Universitas Pertahanan Indonesia)

Photo : AH-64E Apache Guardian TNI AD (Sindonews)

Sumber : Akurat

Advertisements

9 thoughts on “Teknologi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) Meningkat, Sinergi Akuisisi Pertahanan Perlu Diruwat”

  1. nah kenapa yaa pemerintah serasa sulit sekali untuk mendukung dan menyokong produk dalam negeri, tidak seperti negara tirai bambu yang benar-benar menyokong produk dalam negeri sendiri

    Like

    1. Prihatin kalo seorang “pengajar” selalu menyelipkan dagangannya dalam setiap materi kuliah…

      Dimana “harga dirimu” ?

      Like

  2. ya jelas import + TOT, tidak ada kemurnian 100% made in negeri. kuasai teknologi rudal, guided missile sensor. amirka menjadi negara revolusioner dipertahanan juga berkat penawaran dan lobi lobi pada ilmuan ilmuan eropa utk bergabung jd warga negaranya.

    Like

  3. Pak Dosen, mbok kalo punya budget marketingnya itu dialokasikan secara tepat sasaran…ngiklannya di majalah militer seperti biasanya itu lho (yg sekarang sudah berhenti terbit), biar principalnya juga bisa ngecek.iklannya

    Wuaa lha kalo malah ngiklan di kampus, tar gimana dong….NETRALITASNYA ?!!!!!

    Like

    1. Pak Dosen, Ibu saya seorang pensiunan guru smp, dulu beliau mewajibkan muridnya beli buku pegangan dari penerbit tertentu…yah lumayan lah untungnya bisa buat tambah-tambah uang dapur

      Lha kalo ini, helikupter super muahal…emang mo dibayar pake uangnya nenek moyang sampeyan?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s