Tiongkok Kembangkan Rudal Hipersonik Tingkat Tinggi

An image of a hypersonic glider-like object broadcast by Chinese state media in October 2017. No known images of the DF-17's hypersonic glide vehicle exist in the public domain. (CCTV) 1
An image of a hypersonic glider-like object broadcast by Chinese state media in October 2017. No known images of the DF-17’s hypersonic glide vehicle exist in the public domain. (CCTV)

Pemerintah Tiongkok mengembangkan rudal hipersonik tingkat tinggi untuk menghadapi pertahanan Amerika Serikat (AS). Para analis militer menyebut ini artinya perang hulu ledak baru dengan teknologi mutakhir suatu saat nanti akan dilakukan Beijing dalam menghadapi sistem antimisil AS, Terminal High Altitude Area Defence (THAAD).

Menurut analis militer Tiongkok, misil balistik hipersonik yang baru bukan hanya ditujukan untuk menantang pertahanan AS, tetapi juga agar lebih akurat dalam menyerang target-target militer yang ada di Jepang dan India.

Penilaian para analis itu muncul setelah majalah asal Jepang, The Diplomat, mewartakan mengenai kekuatan roket Tiongkok ketika melakukan dua kali uji coba “hypersonic glide vehicle” (HGV) pada akhir 2017.

HGV atau dikenal pula sebagai DF-17, tidak berawak dan bisa menembus hingga ke lapisan atmosfer bumi dengan kecepatan super.

Angkatan bersenjata Tiongkok (PLA) menjalankan uji coba peluncuran misil balistik hipersonik pertama kali pada 1 November 2017, sedangkan uji coba kedua dilakukan dua pekan setelah uji coba pertama. Total kedua uji coba tersebut berjalan sukses dan DF-17 diproyeksi bisa beroperasi sekitar 2020.

An image of a hypersonic glider-like object broadcast by Chinese state media in October 2017. No known images of the DF-17's hypersonic glide vehicle exist in the public domain. (CCTV) 2
An image of a hypersonic glider-like object broadcast by Chinese state media in October 2017. No known images of the DF-17’s hypersonic glide vehicle exist in the public domain. (CCTV)

Lebih Cepat

Dibanding sistem balistik konvensional, hulu ledak HGV bisa melaju dengan kecepatan jauh lebih tinggi, lower altitudes dan lintasan yang tak mudah dilacak. Pendekatan gaya baru ini membuat sistem pertahanan lebih efisien dalam mencegat hulu ledak sebelum menjatuhkan bebannya.

Sejumlah analis militer khusus Tiongkok mengatakan DF-17 merupakan satu dari beberapa iterasi sistem peluncur yang dikembangkan oleh PLA, termasuk DF-ZF, yang telah melalui setidaknya tujuh kali uji coba.

Menurut Song Zhongping, mantan anggota Pasukan Altileri Kedua PLA, DF-17 yang dipersenjatai merupakan prototipe DF-ZF. Sistem HGV bisa digunakan pada beberapa jenis misil balistik, termasuk misil balistik lintas benua dengan jangkauan setidaknya 5.500 kilometer.

Song pun menjelaskan beberapa hulu ledak HGV bisa digunakan pada DF-41, yang jangkauannya setidaknya 12.000 kilometer dan bisa menghantam wilayah daratan AS mana pun dalam tempo kurang dari satu jam.

Sedangkan pengamat militer, Antony Wong Dong, mengatakan HGV dapat digunakan untuk menyasar dan menghancurkan sebuah sistem antimisil AS atau yang disebut THAAD.

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengunduh sistem pertahanan antirudal THAAD pada tahun lalu untuk menangkal ancaman program nuklir Korea Utara (Korut) yang membahayakan. Akan tetapi, pemerintah Tiongkok melihat keberadaan THAAD ini sebagai sebuah ancaman terhadap sistem pertahanannya.

“HGV milik Tiongkok bisa menghancurkan sistem radar THAAD jika terjadi perang antar kedua negara (Tiongkok dan AS). Sekali saja radar THAAD gagal berfungsi pada level awal, maka ini bisa mengurangi kemampuannya untuk meningkatkan alarm sehingga membuat AS tidak memiliki banyak waktu untuk mencegatnya,” kata Wong.

Dalam laporan The Diplomat, uji coba peluncuran misil DF-17 dilakukan di Jiuquan, wilayah Mongolia dan terbang sejauh 1.400 kilometer selama uji coba tersebut.

Sebelumnya, The Diplomat memublikasi pemberitaan ini, pada Oktober 2017, Xinhua telah mewartakan teknologi yang ada pada HGV, yang dilengkapi dengan sebuah terowongan angin dengan berbagai antena.

Analis militer, Zhou Chenming, mengatakan teknologi HGV telah menjadi bagian dari strategi nuklir antara tiga negara kekuatan nuklir terbesar dunia, yakni Tiongkok, AS dan Russia. Dibanding dengan misil balistik konvensional HGV jauh lebih kompleks dan sulit untuk ditangkis.

“AS, Jepang, dan India seharusnya khawatir dengan pengembangan teknologi HGV karena bisa menjangkau target lebih cepat dan lebih akurat,” kata Zhou.

Sumber : Koran Jakarta

Advertisements

3 thoughts on “Tiongkok Kembangkan Rudal Hipersonik Tingkat Tinggi”

  1. Xaxaxa. Tingkat tinggi delay&perawatan. Masih bagusan yu-71 punyanya sebelah. Dan lagian buatan chinten itu mudah rusak dan membahayakan. Contohnya giant bow,c-705,H transport aircraft Family,J fighter family,dll jg yg paling baru itu satelit mereka yg cuma bisa bertahan sebentar dan habistu rusak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s