Aceh Berencana Membeli Pesawat Terbang Jenis N219

Aceh berencana membeli pesawat terbang jenis N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan opsi untuk mengembangkan fasilitas produksi N219, kedirgantaraan serta antariksa di Aceh.

Hal itu disampaikan Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Aceh Mulyadi Nurdin kepada Serambi, Selasa (26/12). Menurutnya, Pemerintah Aceh akan memfasilitasi lokasi area untuk keperluan berdirinya fasilitas kedirgantaraan tersebut.

Rencana itu, jelas Mulyadi dibahas dalam pertemuan antara Pemerintah Aceh dengan PT Dirgantara Indonesia di Bandung pada 19 Desember 2017. Dalam kesempatan itu juga ditandatangani kesepakatan untuk melakukan kerja sama strategis ini.

“Dari Pemerintah Aceh ditandatangani oleh Penasehat Khusus Gubernur Aceh, Capt Muchammad Nasrun Natsir. Sedangkan dari PT Dirgantara Indonesia oleh Kepala Divisi Penjualan PT Dirgantara Indonesia (Persero), Ade Yuyu Wahyuna,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, lanjut Mulyadi, Pemeritah Aceh juga menyampaikan rencana untuk mengembangkan fasilitas dirgantara dan antariksa, seperti Aero City dengan fasilitasnya, termasuk kawasan industri dan Maintenance Repair Overhaul (MRO).

“Pemerintah Aceh akan membangun tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang akan didukung oleh transportasi yang terintegrasi,” ujar Mulyadi Nurdin mengutip kesepakatan tersebut.

Merespons rencana tersebut, PTDI akan memberikan proposal kepada Pemerintah Aceh terkait dengan pembentukan fasilitas final assembly lines N219, termasuk program pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam bidang industri kedirgantaraan pada akhir Januari 2018.

Sementara terkait dengan rencana Aceh membentuk Aero City, Mulyadi mengatakan, PTDI akan mempelajari kemungkinan untuk pendirian fasilitas Indonesia Service Hub (ISH) di Aceh untuk menangkap costumer dari Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Untuk diketahui, N219 merupakan pesawat penumpang berkapasitas 19 orang yang digerakkan dengan dua mesin turboprop produksi pratt and whitney aircraft of Canada Limited PT6A-42 masing-masing bertenaga 850 SHP.

Pesawat ini mampu terbang dan mendarat di landasan pendek sehingga mudah beroperasi di daerah-daerah terpencil. PTDI sukses melakukan uji terbang perdana pesawat N219 pada 16 Agustus 2017.

N219 terparkir di di Bandara Halim Perdana Kusuma saat acara Pemberian Nama Pesawat N219 oleh Presiden RI, Jakarta, Jumat (1011). (Republika)
N219 (Republika)

Tujuh Pesawat

Dalam keterangan terpisah kepada Serambi, Irwandi juga menjelaskan alasan kunjungan kerjanya bersama Kepala Bappeda Aceh Azhari Hasan, Kepala Dishub Zulkarnain, dan beberapa pejabat lainnya ke Austria dan Slovakia.

“Sebenarnya saya tidak ingin pergi ke sana, tapi karena tugas harus mengetahui jenis dan tipe pesawat yang mau dibeli, kunjungan itu harus saya lakukan,” kata Irwandi kepada Serambi seusai Rapim APBA 2017 di ruang P2K Setda Aceh.

Menurutnya, dirinya harus mendampingi pejabat teknis untuk mengetahui jenis dan spek pesawat yang akan dibeli pada 2018 dan 2019. Alasan membeli pesawat, katanya untuk kepentingan patroli laut dan kehutanan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan, kata Irwandi Yusuf telah memindahkan pusat pengawasan kelautannya Pulau Sumatera dari Belawana ke Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) di Lampulo, Banda Aceh karena lokasi PPS Lampulo sangat strategis untuk pengawasan pencurian ikan di ZEE Aceh yang berbatasan dengan Samudera Hindia.

Begitu juga pentingnya pembelian pesawat patroli hutan. Sebab, hampir setiap tahun di wilayah hutan Aceh terjadi kebakaran dan pengrusakan hutan.

Pesawat yang akan dibeli, sebut Irwandi sekitar tujuh unit. Satu unit pesawat akan dibeli dari Austria dengan harga Rp 21 miliar yaitu pesawat Daimon terbaru tipe 62 berpenumpang 7 orang plus operator. Sedangkan enam unit lagi pesawat beroperator 2 orang, tipe seperti pesawat yang digunakannya selama ini. Pesawat itu akan dibeli dari Slovakia dengan harga Rp 2,4 miliar/unit.

Pesawat yang akan dibeli dari Austria, kalau dipesan bulan Januari 2018 bisa diambil bulan Agustus 2018, karena masa pembuatannya butuh waktu tujuh bulan. Sedangkan enam unit lagi yang akan dibeli dari Slowakia, jika dipesan Januari 2018, baru bisa diambil Desember 2019. “Pengadaan tujuh pesawat tersebut baru bisa dilakukan jika DPRA menyetujui,” demikian Irwandi Yusuf.

Photo : N-219 (Detik)

Sumber : Serambi Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s