Indonesia Turunkan Target Kepemilikan Kapal Selam, Dari 12 menjadi 8 Unit

TNI-AL telah mengurangi jumlah kapal selam yang dibutuhkannya berdasarkan cetak biru modern dalam Minimum Essential Force (MEF).

Beberapa sumber dari dalam kantor pusat layanan di Cilangkap telah mengkonfirmasi bahwa persyaratan awal untuk 12 kapal selam pada tahun 2024 sebagaimana ditetapkan dalam cetak biru MEF telah dikurangi menjadi delapan unit.

Dengan persyaratan yang telah direvisi, Indonesia sekarang hanya perlu memperoleh tiga kapal selam lagi dengan batas waktu yang ditetapkan di bawah MEF.

TNI AL saat ini mengoperasikan dua unit kapal selam diesel-listrik tipe Cakra (Tipe 209/1300) buatan Jerman yang dioperasikan sejak tahun 1981, dan satu kapal selam kelas Nagapasa (Tipe 209/1400), yang dibangun oleh Kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME).

TNI AL ini saat ini mempersiapkan diri terkait pengiriman dua SSK kelas Nagapasa dari DSME, yang terakhir dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2021, dan sekarang sedang dalam proses menetapkan persyaratan akhir yang kemudian akan mengarah pada program akuisisi lebih lanjut kapal selam.

April 2017, TNI-AL juga telah menerima sebuah tawaran dari Gölcük Shipyard Turki untuk memasok varian SSK Reis (Type 214) dengan teknologi propulsi independen udara (AIP).

Pilihan lain yang dapat dipertimbangkan oleh Indonesia adalah kapal selam kelas ‘Kilo’ dari Rusia, dan varian Scorpene 1000 dari Grup Naval Prancis, sebagaimana dilansir dari Jane’s (19/ 12).

Photo : KRI Ardadedali 404 TNI AL (KBS)

Editor : (D.E.S)

Advertisements

31 thoughts on “Indonesia Turunkan Target Kepemilikan Kapal Selam, Dari 12 menjadi 8 Unit”

  1. Ini baru realistis…

    Mencanangkan program 12 kasel itu tak semudah ketika mengucapkannya….nomer satu adalah penyiapan SDM yg mumpuni yg akan mengawaki kasel, juga tak ketinggalan kru darat yg siaga untuk melakukan maintenen.

    Justru penyiapan SDM ini yang paling krusial karena hampir sama dengan pilot, untuk mencetak awak hiu kencana yg tangguh membutuhkan waktu yg tidak singkat.

    Daripada mengejar kuantitas, lebih baik mulai mengembangkan teknik dan taktik operasi yg sinergis antara unsur kasel, unsur kapal permukaan, unsur aset udara (mpa/asw) dan juga dg instalasi fixed sensor yg tertanam didasar laut

    Like

  2. Di artikel ini tidak dijelaskan mengapa target akuisisi kapal selam dikurangi dari 12 unit menjadi 8 unit.

    Di IHS Jane dijelaskan alasannya yaitu penekanan pada pembangunan lebih banyak kapal-kapal perang permukaan yang berukuran besar yang bisa beroperasi lebih lama di laut.

    Setidaknya ada Parchim class dan Van Speijk Class yang mau diganti.

    Itu saja sudah 22 unit kapal.

    Belum lagi ada kata “lebih banyak” berarti yang akan dibangun lebih dari 22 unit KRI 3xx.

    Like

        1. Enggak ujug-ujug tentang jenis helinya bung, tapi skadron ini bercitarasa skadron 160 SOAR US Army yg bertugas menunjang misi-misi khusus yg diemban oleh pasukan khusus…mungkin penamaan skadron “heli anti terornya” yang perlu disempurnakan

          Like

  3. politik ini mah… biar ntar pak dhe 2 periode terkesan memenuhi target MEF klo cuman 8 KS dibagi luas laut indonesia dibagi lagi yg overhaul berapa, yg stanby berapa, yg patroli berapa.. belum lg ancaman perang di LCS, belum lg efek deterjen nya ya klo 8 KS itu kilo sm U214 sih cukuplah hahahaha….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s