Penyebab ‘Lubang’ di Pertahanan Udara Indonesia

Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim saat peluncuran buku dan penyerahan 100 buku kepada Angkatan Udara di Skadron Udara 31 Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (17122017). (Maulana Mahardi
Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim saat peluncuran buku dan penyerahan 100 buku kepada Angkatan Udara di Skadron Udara 31 Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (17/12/2017). (Maulana Mahardika)

Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim menyoroti adanya ‘lubang’ di dalam sektor pertahanan udara Indonesia.

Dari segi dasar peraturan, Chappy berpendapat, Indonesia belum memiliki pondasi yang cukup untuk memayungi pertahanan udara.

“Apa buktinya? Wilayah udara negara kita tidak dicantumkan dalam konstitusi sebagai wilayah udara kedaulatan NKRI. UUD 1945 (Pasal 33 ayat 2) hanya menyebutkan “bumi dan air”,” ujar Chappy di Skadron 31 Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma di sela peluncuran tujuh buku miliknya, Minggu (17/12/2017).

Beberapa profesor di dalam negeri sempat membentuk tim kelompok kerja demi amandemen UUD 1945. Namun, upaya itu kandas.

“Jadi, andaikata ada sengketa (udara) di dalam wilayah negara, ya kita tidak akan bisa menang. Bagaimana kita bisa menang, negara lain mengatakan, anda sendiri tidak menyebutkan wilayah udara anda sendiri sebagai wilayah kedaulatan. Itu kelemahan pertama,” lanjut dia.

Dari sisi institusi, Indonesia juga tidak memiliki sebuah institusi yang bertanggung jawab penuh terhadap dunia aviasinya.

Chappy menyebutkan pendapat sejumlah pakar bahwa aviasi tidak bisa hanya dipegang oleh sebuah kementerian saja.

Sebab, dunia penerbangan tidak melulu soal pesawat terbang secara fisik. Namun, juga berhubungan dengan sektor lainnya.

Apalagi dunia penerbangan dalam perkembangannya tidak melulu soal pertahanan semata, tapi juga berkaitan dengan industri penerbangan yang komersial.

“Internation itu berarti antaraparat negara. Ada yang domainnya Kementerian Luar Negeri, lalu yang memerlukan infrastruktur memadai itu Kementerian Perhubungan. Masalah tarif, bea dan cukai domainnya Kementerian Keuangan. Selain itu wilayah udaranya sendiri menyangkut keamanan nasional itu domainnya Kementerian Pertahanan,” papar Chappy.

“Jadi, bukan hanya sektoral, bukan hanya Kemenhub saja. Ada koordinasi yang intens di antara kementerian-kementerian lain yang memiliki kepentingan di dalamnya,” lanjut dia.

Oleh sebab itu, Chappy berpendapat, sektor penerbangan idealnya dikomandoi oleh institusi tersendiri.

“Dulu kita memiliki yang namanya Depanri, Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional RI. Mungkin itu adalah salah satu institusi di tingkat nasional yang menjembatani ini, walaupun saya tidak yakin dia bisa. Mungkin juga kita bisa berpikiran, harus ada kementerian koordinator penerbangan misalnya,” ujar Chappy.

“Tapi intinya adalah, kita memerlukan dasar konstitusi kita harus mengklaim wilayah udara kita adalah wilayah kedaulatan NKRI. Kita juga harus memiliki institusi strategis di tingkat nasional yang mengkoordinasikan semua hal-hal yang menyangkut pengelolaan wilayah udara,” lanjut dia.

Sumber : Kompas

Advertisements

7 thoughts on “Penyebab ‘Lubang’ di Pertahanan Udara Indonesia”

  1. Kenapa Banyak Celah Di HANUD Indonesia?…

    ———————————————–

    Kenapa? Ya Karena Indonesia Tk Membeli SAM System Buatan Rusia!. Kenapa Kok Harus SAM System?. Karena Selain Harganya Murah,SAM System Sudah Battle Proven Di Berbagai Medan, Selain Itu Jangkauan Cover Dari SAM System Melibihi Dari Semua System Hanud Yg Ada Di Dunia Dan Bahkan SAM System Versi Lawaspun Bisa Hit Pesawat Dgn Biaya Pengembangannya Sampe Angka Nolnya Sepanjang Sabang-Merauke. Tak Seperti Buatan Kongs**** Yg Masih Belum Battle Proven,Rawan Embargo, Jangakaun Minim Dan Mahal Pula Tu!.

    #Only Elders Like A Mbh Mien Can Protest

    Like

  2. wah mesti di revisi tuh pak chepy jeli jg. semoga menjadi tembusan ke pemerintahan (menkopolkam,menhan,menkumham)

    dan supaya aman kebolongan kebolongan itu maka harus di beli arhanud yg ciamik NASAMs utk ring 2 dan S500triumph untuk ring 1 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s