Armada Angkatan Udara Perancis yang Bisa Dioperasikan Tak Sampai 50 Persen

Rafale di pangkalan Angkatan Udara Prancis di Mont-de-Marsan, barat daya Prancis, 27 Juni 2017. REUTERS 1
Rafale di pangkalan Angkatan Udara Prancis di Mont-de-Marsan, barat daya Prancis, 27 Juni 2017. (REUTERS)

Kementerian Angkatan Bersenjata Perancis mengungkapkan lebih dari separuh armada angkatan udaranya dinyatakan dalam kondisi tak laik terbang.

Menteri Angkatan Bersenjata Perancis Florence Parly mengungkapkan kenyataan tersebut sekaligus menambahkan rumitnya perizinan untuk mengurus perbaikan satu unit armada terbangnya.

Kerumitan dalam pengajuan izin, Parly mencontohkan, untuk sebuah helikopter Tiger yang menjadi tanggung jawab dari berbagai instansi membutuhkan lebih dari 30 kontrak terpisah.

Menteri Parly mengatakan dalam kesempatan kunjungan ke markasangkatan udara di Evreux, Normandia, pada suatu saat hingga 56 persen armada Angkatan Udara Perancis tidak dalam kondisi siap diterbangkan.

Kondisi itu seolah bertolak belakang dengan peningkatan anggaran dana perawatan hingga 25 persen sejak 2012 yang kini sebesar 3,5 miliar poundsterling (sekitar Rp 63,4 triliun).

Dilansir dari Express, Menteri Parly memaparkan, hanya 80 persen armada udara Perancis yang saat ini berada di zona pertempuran, seperti Irak dan Timur Tengah, yang siap beroperasi.

Angka tersebut turun drastis jika melihat kesiapan armada angkatan udara di dalam negeri Perancis yang hanya 30 persen.

Secara keseluruhan, sekitar 44 persen armada udara Perancis yang dalam kondisi siap tempur. Angka tersebut menurun 11 persen dibandingkan tahun 2000 lalu.

“Konsekuensi dari kondisi ini ada pada tim terbang kita yang jadi jarang berlatih dan akhirnya dana yang dikeluarkan juga akan meningkat,” ujar Menteri Parly.

“Situasi ini sudah tidak bisa ditoleransi dan karenanya saya menjadikannya prioritas probadi,” tambahnya.

Mengatasi hal tersebut, Menteri Angkatan Bersenjata Perancis telah mengumumkan akan membentuk departemen ilmu penerbangan pada tahun depan untuk memastikan perusahaan yang membuat armada udara juga bertanggung jawab dalam perawatan dari awal hingga akhir.

“Saya targetkan hasilnya bisa terlihat di 2020. Kami membeli armada udara untuk diterbangkan, bukan untuk memenuhi hanggar atau sekadar diparkirkan,” ujar Parly.

Sumber : Tribunnews

Advertisements

5 thoughts on “Armada Angkatan Udara Perancis yang Bisa Dioperasikan Tak Sampai 50 Persen”

  1. Jadi Kesimpulannya Jangan Beli Rafale. Kenapa Karena Di Samping Harganya Yg Sangat Mahal,Sucadnya pun Jg Mahal Plus Oprational Costnya Pun Lbih Mahal Dari Flanker Family N Maintancenya Pun Rumit Bikin Otak Kriting Dan Downgrade di Setiap Sisi. 😆

    #Dilarang Protes (Kecuali Mbh Mien)

    Like

    1. Artikel ini tidak secara spesifik menyebut rafale lho…

      Bisa saja pesawat AWACS, MRTT, pesawat patroli maritim Ataltique, mirage-2000 atau bahkan A-400 !!

      Like

      1. Alhamdullilah Akhirnya diprotes Sma Mbh. Memang Tdk Disebutkan Secara Jelas Mbh. Tapi Di Antara -50% Itu Pasti ada Beberapa Rafale. Kan Saya Simpulakan Itu Berdasarkan Fakta Mbah Ya Gk Mungkin Slh. Soalnya Rafale Itu Pesawat Terbanyak Perancis Setalah Mirage 2000

        Like

  2. Eropa terkenal dengan sifatnya yang selalu ingin membuat product yang perfect, tentu saja berbanding lurus dengan kemampuan dan teknologi yang menyertai dan sering menjadi barometer teknologi di dunia… tetapi konsekuensinya, sucad mahal, perawatan mahal, dan semua kombinasi itu jelas sangat rumit terutama bagi pihak yang mengoperasikan peralatan buatan Eropa… jadi ingat masa sekolah dulu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s