Senapan Elektromagnetik, Andalan Masa Depan Militer Rusia

Tentara Rusia sudah memakainya untuk menembak jatuh drone ISIS di Suriah: senjata ini tak perlu peluru, cukup dengan mengeblok sinyal. Dua produsen senjata Rusia sedang berkompetisi meraih kontrak jutaan rubel untuk menyuplai tentara dengan senapan ini.

Terlihat seperti senjata fiktif dari film Blade Runner, model pertama senapan elektromagnetik ini pertama dikemukakan ke publik pada pameran militer Army-2017 di Moskow Agustus lalu. “Stupor” – nama dari senapan ini – bahkan telah diuji coba dalam pertempuran di Suriah.

Dmitry Klochko, Kepala Locmas – produsen senjata futuristis ini – mengatakan bahwa Stupor dirancang untuk menghancurkan sinyal Wi-Fi dan GPS musuh demi melumpuhkan pesawat tak berawak (UAV/drones) dan mengeblok jaringan komunikasi. Ia mampu menembak dari jarak hingga 500 meter.

Drones ISIS dilaporkan telah menghancurkan gudang amunisi Tentara Suriah di Deir ez-Zor, membunuh awak tank Abrams milik Irak, dan menyerang kendaraan Humvee yang juga milik badan keamanan Irak.

Senapan Elektromagnetik: AK-47 Baru

Kalashnikov Concern juga telah memutuskan untuk ikut bersaing di pasar ini dan mengemukakan senapan anti drone-nya sendiri, “REX-1”.

Nikita Khamitov, kepala departemen proyek khusus di Grup Zala Aero (perusahaan saudara Kalashnikov Concern, yang mengembangkan senjata seperti ini), mengatakan kepada Russia Beyond bahwa REX-1 adalah senapan radio-magnetis yang bisa menahan saluran komando dan kendali dari para drones yang paling sering dihadapi di dunia. Senapan ini juga dipasang sejumlah unit-unit elektromagnetik dan inframerah yang bisa diganti yang mampu menangkal GSM, GPS, GLONASS, Galileo (ketiga terakhir adalah tipe sistem navigasi satelit), dan saluran lainnya.

Menurut Khamitov, laras senapan ini bisa diganti dan dipasang komponen yang diperlukan hanya dalam hitungan detik, selayaknya mengganti magasin dari senapan serbu.

REX-1 mampu menembak terus-menerus selama empat jam. Penggunanya kemudian harus mengecasnya selama empat jam lagi dengan soket 220 volt, atau masukkan baterai tambahan supaya bisa memakainya empat jam lagi.

Setiap drone akan memiliki reaksi tembakan yang berbeda tergantung modelnya. Secara keseluruhan, drone punya dua mode dasar jika kehilangan komunikasi dengan operatornya: kembali ke titik terbang, atau mendarat di tanah.

“Jika mendarat di tanah, drone akan hilang dari radar musuh, dan Anda jadi punya mainan baru di tangan,” Khamitov menambahkan.

Photo : REX-1 (RBTH)

Sumber : RBTH

Advertisements

10 thoughts on “Senapan Elektromagnetik, Andalan Masa Depan Militer Rusia”

    1. Nggak Kaya Yg Sebelah Ya Bung?… Tapi Ngomong-2 Itu Drone nya ISIS Di Dpt Darimana Ya?… Masa Kelompok Kaya ISIS Bisa Buat Drone Sekelas UCAV…

      Like

      1. ya jelas dari suhunya lah bung… siapa lagi… ISIS itu kalau tidak mendapatkan dukungan dari kekuatan luar, sebenarnya sudah bisa dilumpuhkan dari dulu… termasuk bagaimana mungkin ISIS bisa menghindari pasukan pertahanan tersembunyi sebelum menyerang posisi pasukan Suriah akir ini, Russia sampai heran…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s