Robot Kapal Selam Karya Muhammad Syukron

Robot Kapal Selam - Muhammad Syukron (Radar Malang) E
Robot Kapal Selam – Muhammad Syukron (Radar Malang)

Muhammad Syukron terlihat begitu cekatan saat memaparkan cara kerja robot kapal selam buatannya. Kapal selama itu dia rangkai dari pipa PVC 9 dim dengan panjang sekitar 40 cm dan lebar 25 cm. Di dalamnya terdapat rangkaian elektronik.

Menurut dia, keunggulan kapal selam buatannya dibanding kapal selam yang ada di pasaran adalah pada sistem ballast atau sistem pemberat kapal selam sungguhan (bukan dengan sistem baling-baling). Dengan menggunakan sistem ballast, membuatnya menyerap air saat menyelam dan menyemburkan air saat naik ke permukaan, seperti kapal selam sungguhan.

”Selain itu, kapal selam karya saya ini hemat baterai. Kalau pakai baling-baling seperti kapal selam lainnya, baterainya cepat habis,” jelasnya.

Keunggulan lainnya, kapal selam ini menggunakan wireless (nirkabel). ”Bisa dikendalikan dari darat dengan remote control nirkabel atau tanpa kabel,” tambahnya.

Untuk membuat rangkaian kapal selam ini, Syukron mengaku menghabiskan waktu 1,5 tahun atau tiga semester.

”Waktu itu terkendala dana. Kalau ada dana, bisa selesai dalam 1 semester saja,” ungkapnya. Saat ditanya soal biaya, untuk satu perangkat kapal selam, Syukron menghabiskan dana sekitar Rp 10 juta.

Dia menyatakan, robot kapal selam itu dia buat sekembali dari Polandia pada 2014. Saat itu, dia melanjutkan skripsinya di Universitas Mumammadiyah Malang (UMM).

”Judul skripsi saya Rancang Bangun Robot Kapal Selam (ROV) tanpa Awak Dikendalikan dengan Remote Control Nirkabel (tanpa Kabel) Berbasis Arduino,” jelas pemuda kelahiran 30 Agustus ini.

Dalam membuat penelitiannya, dia tidak sekadar menulis. Namun, juga dilengkapi dengan bentuk fisik robot beserta remote-nya. Saat ujian skripsi pada 2016, dia lulus dengan nilai A.

Menurut dia, perangkat robot kapal selam tersebut mirip dengan pesawat drone (UAV). Namun, robot kapal selam ini bisa digunakan di dasar serta permukaan air. Robot kapal selam tersebut juga bisa mengambil sampel air dan tanah yang tercemar limbah dengan lengan robot di dasar danau atau tempat berair lainnya. Bahkan, dilengkapi pula dengan kamera untuk mengambil gambar maupun video.

”Prototipe ini masih terus diperbaiki agar makin sempurna,” ujar Syukron.

Penelitian tersebut yang kemudian digunakan sebagai persyaratan untuk mendaftar beasiswa berupa rencana tesis di Ignacy Łukasiewicz Scholarship (Pemerintah Polandia) 2016. Setelah lolos mendapatkan beasiswa S-2 tersebut, dia melanjutkan studi di Politechnika Wroclawska Polandia.

Kedua kalinya mendapat kesempatan melanjutkan studi di Polandia, alumnus SMK 1 Purwosari ini langsung memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia bergabung dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Polandia.

Saat itu, dia mendapat undangan VIP dalam acara International Conference of Indonesian Intellectual Community (ICONIC) 2016 di Hamburg, Jerman. Dalam acara tersebut, dia mendapat kesempatan mengobrol dengan anak mantan presiden Republik Indonesia (RI) Habibie, yakni Ilham Akbar Habibie yang ikut hadir.

”Setelah saya menyinggung proyek kapal selam, beliau sangat antusias” katanya.

Saat itu, Ilham Akbar Habibie menanyakan penelitian Syukron tentang bagaimana cara tenggelamnya, dapat menyelam sampai kedalaman berapa meter, sistem kontrolnya, pernah diuji coba di mana saja, dan lain-lain.

”Beruntung sekali bisa sharing dengan beliau yang sangat mengapresiasi penelitian saya,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Tak sampai di situ, pada 2017, Syukron terpilih menjadi ketua PPI Polandia periode 2017-2018. Kemudian, dia mendapat kesempatan menghadiri acara Simposium PPI Kawasan Amerika-Eropa 2017 di Washington DC, Amerika Serikat.

”Tidak semua orang mendapat kesempatan menghadiri acara tersebut. Sebab, kendalanya waktu dan biaya. Saya sendiri memiliki waktu, tapi tidak memiliki biaya,” ujar anak dari pasangan Machfudz dan Wardatul Jannah ini.

Namun, setelah mengajukan permintaan biaya ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), dia lantas bisa berangkat. ”Saya beruntung dapat biaya penuh dari KBRI untuk berangkat ke Washington,” tambahnya.

Dalam acara yang dihadiri total 14 negara tersebut, Syukron terpilih menjadi sekretaris jenderal (sekjen) PPI Kawasan Eropa-Amerika. Terpilihnya Syukron menjadi sekjen PPI Kawasan Eropa-Amerika otomatis menjadikannya sebagai dewan presidium PPI Dunia. Kini, dia aktif di PPI TV sebagai reporter dan produser siaran live wilayah Amerika-Eropa.

Pengalaman-pengalaman Syukron mendapatkan beasiswa dia tuliskan dan terbit menjadi salah satu kisah dalam buku berjudul Explore: 20 Kisah Perantau Ilmu, Gramedia, cetakan Elex Media Komputindo 2017. Dia berharap, orang bisa mengambil pelajaran dari kisahnya agar mahasiswa Indonesia ikut terinspirasi untuk melakukan hal yang sama, kuliah di luar negeri.

”Hidupku untuk hajat hidup orang banyak” katanya saat menyebutkan moto hidup. Ketertarikannya di bidang teknologi membuat Syukron ingin terus menimba ilmu ke penjuru dunia. ”Saya ingin jadi peneliti atau sekalian jadi dubes (duta besar) Indonesia,” ujarnya.

Menurut dia, lewat penelitian dalam bidang teknologi, dia turut berkontribusi untuk keilmuan Indonesia. Dia pun menambahkan, belajar di luar negeri dan di Indonesia memang berbeda.

”Fasilitas belajar di luar negeri lebih mendukung, tapi tentu hasil studi dari luar negeri tetap menjadi sumbangsih untuk Indonesia,” tutur mahasiswa yang berencana melanjutkan S-2 ke Inggris itu.

Untuk diketahui, selama ini Syukron memang boleh dibilang sebagai pemburu beasiswa. Tercatat sudah 6 program beasiswa yang dia raih. Program beasiswa tersebut adalah Beasiswa Toyota dan Astra 2012, Erasmus Mundus-Mover 2013 (Uni Eropa), Dataprint 2014, Dataprint 2015, Beasiswa Pemerintah China 2016, dan Ignacy Lukasiewicz Scholarship (Pemerintah Polandia) 2016.

”Saya mulai menerima beasiswa sejak kuliah,” katanya.

Saat mendapat beasiswa Erasmus Mundus-Mover 2013, pemuda kelahiran Pasuruan ini menduduki urutan kedua dari 63 penerima beasiswa se-Asia. ”Menurut saya, mengurus beasiswa gampang-gampang susah. Kita harus memaksimalkan dokumen yang memerlukan waktu dan tenaga yang banyak,” jelasnya.

Dengan memaksimalkan dokumen lamaran beasiswa, untuk yang pertama, dia mendapat kesempatan untuk kuliah selama dua semester jurusan electrical engineering and computer science di Lublin University of Technology, Polandia. Saat itu, dia menyempatkan berkunjung ke 12 negara Eropa lain. Yakni, Jerman, Belanda, Prancis, Belgia, Spanyol, Hungaria, Czech Republic, Slovakia, Austria, Italia, Vatikan, dan Yunani.

Sumber : Radar Malang

Advertisements

One thought on “Robot Kapal Selam Karya Muhammad Syukron”

  1. saya awam mau tanya sebenernya drone itu bisa tidak disebut robot??benda bergerak yg di kendalikan jarak jauh(remote control) apakah bisa dikatakan robot???apakah mobil mobilan remote control jg robot??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s