RI – Swedia Kembangkan Sistem Navigasi Penerbangan Digital

Navigasi Udara Natura Petugas menunjukkan kondisi 'real time' lalu lintas ruang udara Indonesia dengan aplikasi flight radar 24 milik Airnav Indonesia di Jakarta, Rabu (1609). (Antara)
Navigasi Udara Natura Petugas menunjukkan kondisi ‘real time’ lalu lintas ruang udara Indonesia dengan aplikasi flight radar 24 milik Airnav Indonesia di Jakarta, Rabu (16/09).(Antara)

Direktorat Navigasi Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan Otoritas Penerbangan Swedia bekerja sama mengembangkan sistem navigasi penerbangan digital. 

Direktur Navigasi Penerbangan Yudhi Sari Sitompul dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, mengatakan perlunya pengembangan sistem navigasi penerbangan Indonesia ke arah digital, dilatarbelakangi semakin meningkatnya pergerakan atau trafik lalu lintas penerbangan di Indonesia dengan sebaran yang beragam.

Salah satu indikatornya adalah dimasukkannya Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai satu dari 20 bandara tersibuk lalu lintas penerbangannya di dunia pada periode 2010-2015 oleh Airport Council International (ACI).

“Kami dari Direktorat Navigasi Penerbangan menyambut baik kerja sama dari Pemerintah Swedia ini. Karena kami memiliki lebih dari 250 bandara mulai dari yang kecil hingga besar yang perlu dikembangkan dukungan teknologi sistem navigasi penerbangannya. Hal ini untuk mendukung keselamatan, kelancaran dan kenyamanan penerbangan serta efisiensi operasional bandara di Indonesia,” ujar Yudhi Sari.

Menurut dia, biaya operasional navigasi penerbangan mencapai 30-40 persen dari biaya operasional bandara.

Jika sistem operasional navigasi penerbangan dilakukan dengan sistem teknologi digital modern, lanjut dia akan mampu menurunkan biaya navigasi penerbangan sehingga operasional bandara lebih efisien.

“Swedia telah mengembangkan teknologi remote tower ATS dan sudah diujicobakan di beberapa bandara. Jadi Swedia mempunyai pengalaman dalam implementasi remote tower ini. Kita bisa belajar dan saling berbagi pengalaman dengan Swedia,” katanya.

Yudhisari berharap dari workshop hari ini, Ditnavpen bersama dengan operator atau AirNav Indonesia dapat menyusun suatu konsep kedepan dan mengetahui seberapa mungkin mengaplikasikan atau menganalisis untung dan ruginya model remote tower ATC bila diterapkan di Indonesia.

Saat ini Organisasi Penerbangan Internasional (ICAO) terus membut lokakarya terkait praktik rekomendasi dan standar di bidang remote aircraft (drone) dan juga remote ATS, termasuk di dalamnya terkait remote tower ATC.

Selain Swedia, beberapa negara yang telah melakukan uji coba teknologi remote tower ini dengan sukses adalah Australia, Amerika Serikat, Belanda, Norwegia dan Irlandia.

Sumber : Antara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s