Peretas Data Pesawat Tempur F-35 Australia

F-35 Australia (AFP)
F-35 Australia (AFP)

DATA sensitif tentang jet tempur siluman F-35 Australia dan prog­ram pesawat pengintai P-8 dicuri. Pencurian terjadi ketika satu subkontraktor pertahanan diretas dengan menggunakan perangkat yang banyak digunakan penjahat siber Tiongkok.

Menurut laporan situs ZDNet Australia,Kamis (12/10), perusahaan rekayasa kedirgantaraan dengan pegawai 50 orang itu sempat ditembus pada Juli tahun lalu. Akan tetapi, badan keamanan siber nasional, Australian Signals Directorate (ASD), baru menyadari pelanggaran tersebut pada November.

“Sekitar 30 GB ‘data sensitif’ dengan akses terbatas menurut Peraturan Lalu Lintas Senjata Internasional pemerintah Amerika Serikat (AS) telah dicuri,” ungkap Mitchell Clarke dari ASD dalam konferensi keamanan yang digelar Rabu (11/10). Clarke yang menangani kasus itu, tidak menyebutkan nama subkontraktor tersebut, tapi membenarkan jika informasi tentang F-35, jet tempur generasi terbaru AS, serta P8, sebuah kapal kapal pengawas dan pemburu kapal selam canggih, telah diambil.

Dokumen lain yang dicuri ialah sebuah wireframe diagram di salah satu kapal baru angkatan laut Australia. Clarke mengatakan para peretas menggunakan sebuah alat yang disebut ‘China Chopper’. Menurut pakar-pakar keamanan alat ini banyak digunakan aktor-aktor Tiongkok dan mendapatkan akses melalui server internet. Di jaringan lain, subkontraktor juga menggunakan layanan internet dengan kata kunci yang umum yakni, ‘admin’ dan ‘guest’.

“Serangan dijuluki peretas Alf seperti nama tokoh dalam film opera populer Australia, Home and Away , sedangkan rentang tiga bulan yang tidak disadari, mereka sebut ‘Waktu Senang-senang Misteri Alf’,” kata Clarke. Menteri Pertahanan Perindustrian Australia, Christopher Pyne, mengatakan informasi yang diretas itu bersifat komersial. “Itu tidak diklasifikasikan dan tidak berbahaya dalam hal militer,” katanya.

Pyne menambahkan, Australia semakin menjadi sasaran penjahat siber karena sedang melakukan proyek selam senilai A$50 miliar (Rp527 triliun), yang disebutnya sebagai terbesar di dunia. Negara itu juga berkomitmen untuk membeli 72 pesawat F-35A seharga A$17 miliar (Rp179 triliun). Enggan mengungkapkan dalangnya, Pyne hanya menyebut pemerintah menghabiskan miliaran dolar untuk keamanan siber.

Pemberitahuan itu terjadi hanya beberapa hari setelah Asisten Menteri Keamanan Siber Australia, Dan Tehan, mengungkapkan 47 ribu insiden siber terjadi dalam setahun terakhir atau naik 15%. “Kekha­watiran utama ialah 734 serangan yang melanda sektor swasta dan penyedia infrastruktur penting selama periode tersebut,” kata Tehan.
Tahun lalu, Cyber Security Center pemerintah juga menemukan perangkat lunak yang berbahaya dipasang mata-mata asing di sistem Biro Meteorologi dan mencuri sejumlah dokumen yang tidak diketahui.

Sumber : Media Indonesia

Advertisements

2 thoughts on “Peretas Data Pesawat Tempur F-35 Australia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s