Su-35 yang Dibeli TNI AU Diharapkan Mempunyai “Combat Readiness” yang Tinggi

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dalam siaran pers tanggal 4 Agustus mengatakan, “Imbal dagang di bawah supervisi kedua pemerintah (Republik Indonesia dan Rusia) diharapkan dapat segera direalisasikan melalui pertukaran 11 pesawat terbang tempur Sukhoi SU-35 dengan sejumlah produk ekspor Indonesia mulai dari kopi dan teh hingga minyak kelapa sawit dan produk-produk industri strategis pertahanan.”

Dengan penjelasan ini maka berakhirlah seluruh spekulasi yang beredar selama ini tentang pesawat apa gerangan yang akan dipilih sebagai generasi penerus pesawat F-5E tiger II, Light Fighter Aircraft buatan tahun 1970-an yang merupakan pengembangan dari pesawat latih T-38 Talon.

Di tahun 1970-an, sebagian besar sekolah penerbangan di Amerika menggunakan T-38 Talon sebagai pesawat latih pada fase “advance” atau tingkat lanjut.

Angkatan Udara Indonesia sebenarnya sudah cukup lama ancang-ancang untuk mencari pesawat tempur sebagai pengganti pesawat F-5E tiger II.

Konon, selain Su-35 yang sudah dipilih, ada beberapa jenis pesawat terbang tempur yang masuk dalam daftar pilihan tersebut, di antaranya adalah Eurofighter Typhoon buatan konsorsium beberapa pabrik pesawat di Eropa, Dassaults Rafale buatan Perancis, F-16 V Viper, dan SAAB JAS 39 Gripen produk Swedia.

Pesawat SUKHOI-SU-35

Sukhoi-35 adalah pesawat fighter, single seattwin engine yang “super manuverable multi role aircraft”. Pesawat ini didesain oleh Sukhoi dan dibangun oleh KnAAPO (Komsomolosk on Amur Aircraft Production Association).

Untuk diketahui, pesawat Su-35 yang disebut NATO sebagai Flanker-E merupakan penyempurnaan dari produk sebelumnya yaitu pesawat Su-27.

Kemungkinan besar pilihan jatuh kepada Su-35, selain dapat diperoleh dengan cara “tukar-kopi”, adalah karena Indonesia selama ini sudah cukup familiar dengan pesawat-pesawat Su-27SK dan Su-30 MK2 yang perbedaannya secara teknikal dengan Su-35 tidak terlalu jauh sebagai sebuah sistem senjata.

Kecepatan maksimal yang dapat dicapai oleh Su-35 adalah 1.563 mph atau lebih kurang 2.500 Kph. Pesawat ini dapat mencapai jarak sejauh 3.600 Km.

Sebagai produk berteknologi mutakhir pesawat Su-35 diterbangkan untuk pertamakali di bulan Mei tahun 1988.

Pesawat ini memiliki panjang badan hampir mencapai 22 meter dan kelebaran bentangan sayap sejauh 15,5 meter. Kecepatan rata-rata pada saat tebang jelajah adalah lebih kurang dari 1.400 Kph.

Proses pemilihan dalam perencanaan pengadaan pesawat terbang tempur memang tidaklah sederhana. Selain harga yang tidak murah, konsumen biasanya dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang cukup banyak opsinya.

Dalam membeli pesawat, akan banyak pula faktor yang mengiringinya untuk dipertimbangkan masak-masak. Tidak hanya spesifikasi teknis yang berhubungan langsung dengan taktik dan teknik penggunaan pesawat sebagai sistem senjata, tapi juga ada sejumlah hal lain yang harus diperhitungkan dengan tuntas.

Sistem pemeliharaan pesawat akan berkait dengan pola penanganan mesin serta sistem lain yang berhubungan dengan peralatan avionic.

Belum lagi perabotan yang digunakan sebagai peralatan utama baik untuk menerbangkan pesawat maupun dalam konteks penggunaan persenjataan yang digunakan dalam sistem pesawat terbang.

Kalkulasi dari semua itu sebenarnya akan bermuara di status yang dikenal sebagai “combat readiness”.

Nah, pada perhitungan yang langsung berhubungan dengan kesiapan tempur itulah, maka peranan dukungan administrasi dan logistik akan menjadi tulang punggung pada proses perencanaan kesiapan tempur.

Pada titik inilah maka kesiapan “spare-parts” pesawat dan peralatan pendukungnya yang terlihat “sepele” ternyata kemudian menjadi peran sentral juga pada target operasi yang menuntut kesiapan tinggi. Belum lagi dalam proses menyiapkan sumber daya manusia yang harus mengawakinya, terutama para pilot dan teknisi pesawat terbang.

Harapannya adalah dengan telah dipilihnya pesawat Su-35, maka pola pertahanan udara nasional dapat disempurnakan lebih baik lagi ke depan. Para pilot dan teknisi Angkatan Udara sudah membuktikan dirinya tangguh dan terampil dalam mengawaki pesawat terbang tempur berteknologi mutakhir.

Selamat datang Su-35, walau di luar sana banyak juga keluar selorohan yang mengatakan sebagai Sukhoi rasa kopi. Selorohan yang pasti tidaklah bermakna negatif tentunya, kecuali bagi mereka yang sudah kehilangan “sense of humor”.

Photo : Su-35 flying with newer variants of Kh-35 & Kh-38 meant for T-50 during practice for MAKS-2017. (Bharat Rakshak)

Sumber : Kompas

Advertisements

11 thoughts on “Su-35 yang Dibeli TNI AU Diharapkan Mempunyai “Combat Readiness” yang Tinggi”

  1. Hahaha… Turut Prihatin Ke Sales SAAB,Dassault,LM,EF. 😦 😛 Ehhh Itu Yg Foto Brosur Su-37 (Varian Su-35 Yg Pek Cannard)

    #Solidaritas
    #Karet
    #Kopi
    #Sawit
    #Minyak

    Like

        1. Sekelas kompxx kok bikin artikel spt ini yo dek jimmy…coba diamati alur narasinya, diawali dg update MOU RI-Rusia, terus dr situ bisa memastikan kalo proyek ini sdh deal (kompetitor lain tinggal gigit jari)

          Ehh diparagrap berkiutnya malah mengungkapkan keraguan…”Kemungkinan besar pilihan jatuh pd bla-bla-bla”.

          Yang lebih parah di setengah bagian kedua malah menceritakan ttg keandalan pesawat lain…ketika sdh menyentuh ttg “combat readiness”.

          Kalo dek jimmy mah udah gak kaget dg berita beginian…dia mah orange tabah dan tawakal….nyadap karet, hhh

          Like

  2. bung jimmy .. jagan gitu toh..pagi2 udah joged di atas penderitaan sales itu..kan kasian tau..harusnya di hibur traktir bakso kek…hihihhihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s