Pemerintah Indonesia Akan Pasang Instalasi Sonar Bawah Laut

Pemerintah akan memasang instalasi sonar dasar laut atau ‘deep ear’ di selat pintu masuk Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Fungsi dari instalasi tersebut untuk mendeteksi keberadaan kapal selam negara lain yang melintas di titik perlintasan strategis tersebut.

Panglima Armada Indonesia kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Aan Kurnia mengungkapkan, untuk tahap awal, instalasi sonar bawah laut ini akan dipasang di Selat Sunda yang berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Lokasi lain yang akan dipasangi alat ini adalah Selat Lombok yang diapit Pulau Bali dan Pulau Lombok.

Kalau proses berjalan dengan lancar, instalasi tersebut akan dipasang di titik-titik selat strategis ALKI. “Jadi (instalasi sonar) itu akan memagari selat-selat kita,” kata Aan usai bertemu Menteri Koordinator Maritim Luhut Binsar Pandjaitan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Jakarta, Senin (31/7).

Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) adalah alur laut yang ditetapkan sebagai alur pelayaran dan penerbangan internasional di wilayah teritorial Indonesia. ALKI ditetapkan untuk menghubungkan tiga perairan bebas, yaitu Samudera Hindia, Laut China Selatan, dan Samudera Pasifik. Pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan diatur berdasarkan konvensi hukum laut internasional.

Alur untuk pelayaran dan penerbangan inilah yang dimanfaatkan oleh kapal atau pesawat udara asing saat melintas di wilayah laut dan udara Indonesia. Penetapan ALKI dimaksudkan agar pelayaran dan penerbangan internasional dapat terselenggara secara terus menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang wilayah teritorial Indonesia.

ALKI terbagi menjadi tiga perlintasan. ALKI I melintasi Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda, dan Samudera Hindia. ALKI II melintasi Samudera Pasifik, Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Selat Lombok, dan Samudera Hindia. Sementara ALKI III melintasi Samudera Pasifik, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai, Laut Sawu, Samudera Hindia.

ALKI I dan ALKI II memang menjadi perlintasan yang paling ramai. Selama ini, patroli kapal perang TNI AL beberapa kali mendeteksi kapal selam negara asing melintas di bawah laut pada beberapa titik ALKI. Masalahnya, kapal perang tidak dapat berpatroli terus menerus karena secara berkala harus kembali ke pangkalan.

Makanya, pemerintah menghendaki memasang instalasi sonar bawah laut di titik-titik ALKI. Dengan alat ini, pemantauan terhadap kapal permukaan maupun kapal selam yang melintas dapat dilakukan secara terus menerus selama 24 jam tanpa perlu mengirim kapal perang ke lokasi.

Aan juga mengatakan instalasi tersebut akan mengandalkan teknologi buatan Indonesia sendiri. Namun sayangnya dia tidak mengungkapkan insitusi atau perusahaa mana yang akan membuat sistem ‘deep ear’ ini. “Teknologi dalam negeri yang digunakan pokoknya luar biasa,” katanya.

Untuk meningkatkan kemampuan operasi anti kapal selam, tahun lalu, TNI AL memesan 11 helikopter antikapal selam untuk membangun kembali Skuadron 100 pemburu kapal selam yang disegani dunia pada tahun 1960-an. Kesebelas helikopter AKS tersebut diproduksi bertahap di Perancis oleh Airbus Helicopters bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia.

Adapun Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan beberapa pekan lalu juga meminta PT PAL (Persero) agar dapat memasok seluruh kebutuhan armada TNI Angkatan Laut pada 2018. Target ini diharapkan meningkatkan kinerja perusahaan, yang saat ini hanya memproduksi 10-15 persen dari kapasitas pabrik. “Kami mau tahun depan sudah maksimum ya (kapasitas produksinya),” ujar Luhut.

Photo Ilustrasi – Laboratorium Sonar Angkatan Laut (ECA Group)

Sumber : Kata Data

Advertisements

21 thoughts on “Pemerintah Indonesia Akan Pasang Instalasi Sonar Bawah Laut”

  1. Sonar made in Indonesia ? Bagus. Langkah yang cerdas. Seyogyanya segera dipasang, biar terdeteksi kasel yg mondar-mandir di ALKI.

    Like

    1. Dek dian, nanti yang akan dipasang berjenis hidrophone/sosus apa malah variable depth sonar yang dipasang stasioner?

      Like

  2. nkri darurat rudal type destroyer
    tanya kenapa!
    mengapa kasel asing sering mondar mandir di laut nkri
    pesawat asing sering terbang gelap diudara nkri
    patok perbatasan sering hilang
    sering dilecehkan negara luar
    sering di dikte dan dianggap remeh negara luar
    banyak separatis dukungan asing buat merongrong nkri
    diudara nkri masih dijajah singapura
    didarat masih dijajah usa ( prepot negara didalam negara)
    dilaut masih dijajah maling ( sekarang agak mendingan,ada susi)
    karna nkri gak bisa jiplak rudal atau buat rudal
    dari ratusan ribu insiyur,pakar ite,dan ribuan prof atau ratusan akademis atau apalah,kasarnya 250 juta rakyat nkri gak ada yg bisa buat rudal,walaupun hanya sekelas rudal shorad,beda dengan cina,india,pakistan mereka sudah bisa buat rudal makanya mereka punya daya tawar tinggi,dan yg penting mereka disegani.
    negara hebat dan maju itu kalau bisa buat rudal walaupun sekelas rudal shorad,jadi kalau ada negara lain melecehkan nkri ya wajar karna gak punya daya tawar tinggi.
    ekonomi ibarat makanan
    teknologi( rudal,radar itu aja dulu) ibarat minuman
    jadi percuma ekonomi maju,( percuma makan enak)
    kalau tekno rudal gak bisa buat( tapi gak minum)
    jadi makanan dan minuman ibarat makanan dan minuman.
    ngerti rek…..

    Like

    1. kasarnya 250 juta rakyat nkri gak ada yg bisa buat rudal

      Lho Sebenarnya Jika Para Insinyur Di Danai Dan Di DukungPenuh Oleh Pemerintah ICBM Pun Bisa Di Buat… Dan Untuk Membuat Manpads Itu Sebenarnya Tdk Terlalu Susah. Dan Saya Pernah Lihat Proses Pembuatan Manpads IGLA Di KBM

      Like

  3. sengaja di publikasi rencana pemasangan. biar semua negara pada tau diri kalo lewat harus permisi karena akan di pasang sonar.

    Like

  4. Hanya 10 – 15% saja ?

    Dikit banget.

    Jika dalam 1 tahun PT PAL meluncurkan SSV 2 unit x 7200 ton dan PKR 2 unit x 2400 ton, maka :

    2 x 7200 = 14400

    2 x 2400 = 4800

    14400 + 4800 = 19200 ton

    19200 ton itu baru 15% ?

    19200 / 0,15 = 128.000 ton

    Jika 1 unit Iver 6600 ton, maka 128.000 ton itu sama dengan :

    128.000 / 6600 = 19,39 dibulatkan 19

    Jika 128.000 itu 100% kapasitas PT PAL maka dalam setahun bisa meluncurkan 19 unit kapal perang setara Iver Huitfeld.

    Sanggup nggak si PT PAL ?

    Like

      1. Lho saya nggak bilang lama produksi to.

        Saya hanya bilang dalam waktu 1 tahun (12 bulan) khan sudah diluncurkan 2 pkr dan 2 ssv.

        Trus katanya produksi PT PAL baru 10-15% daripada kapasitas produksi sesungguhnya

        Jadi saya hitung saja tonase produksi PT PAL itu ( tonase 2 ssv + 2 pkr) lalu dibagi 15%, hasilnya ketemu 128 ribu ton.

        128 ribu ton itu = 19 unit iver huitfeld.

        Pertanyaannya Sanggupkah PT PAL luncurkan 19 kaprang setara Iver per tahun ?

        Kalau nggak sanggup ya jangan sesumbar baru 10-15% kapasitas produksi.

        Like

    1. Cintia, kalau kamu konsisten komentar tentang kebutuhan rudal ya pakai aja nickname Cintia duta rudal (nickname Cintia duta rudal itu sendiri sudah sangat bagus) sebab nick name itu mewakili apa yg kamu komentari.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s