“Stellar” Raih 1000 Jam Terbang dengan Sukhoi

Selasa (11/7), menjadi hari istimewa bagi Andry –sapaan Andry Libarsyah Agung Nugroho. Bukan sedang merayakan ulang tahun, melainkan ia mampu mencapai salah satu impiannya dalam berkarier sebagai prajurit TNI Angkatan Udara (AU), khususnya di jajaran penerbang.

Pria 33 tahun yang kerab dijuluki Stellar ini mengukir prestasi dengan telah mencapai 1.000 jam terbang bersama pesawat tempur Sukhoi. Suatu prestasi yang menjadi dambaan bagi penerbang di jajaran TNI AU.

Andry sebenarnya telah membukukan 1.643,5 jam terbang selama mengawaki pesawat tempur. 1.000 jam terbang di antaranya dilakukan bersama pesawat Sukhoi. Namun yang spesial, pencapaian prestasi itu diukir saat Andry sedang melaksanakan tugas operasi di perairan Ambalat, Kalimantan Utara.

Selama kurang lebih sebulan sejak kegiatan Trilateral Indhomalpi di gelar pertengahan bulan lalu, perwira TNI AU berpangkat mayor ini berada di Tarakan untuk mengawasi perbatasan Indonesia bersama pesawat Sukhoi.

Hampir tiap hari Andry dan beberapa penerbang lainnya bermanuver di langit Kaltara. Penerbangannya kemarin bersama pesawat canggih buatan Rusia itu pun memastikan jam terbangnya menjadi 1.000.

“Sangat bangga sekali. Karena tidak semua orang bisa menerbangkan pesawat ini. Dan kebetulan saya juga satu leting sendiri di sini, sangat enjoy, sangat bersyukur sekali, dan itu semua tidak lepas dari doa keluarga saya, dan semua teknisi yang telah menyiapkan pesawat ini dengan baik,” ujarnya.

Andry merupakan anak dari prajurit Paskas TNI AU, Mulyono. Dari kecil, ia mengaku sudah diperkenalkan oleh ayahnya tentang dunia penerbangan sehingga memotivasi dirinya. Lulus SMA pada 2002, ia langsung melanjutkan pendidikan ke AAU.

Lulus 2005, ia melanjutkan ke sekolah penerbangan angkatan 74. Ketika mengikuti pendidikan di Lanud Adi Sucipto, ia sudah dipercaya menerbangkan pesawat jenis AS 202 Bravo, dan t-34c-1 Chalie sebagai pesawat latih dasar dan pemula.

Lulus pada Agustus 2007, Andry langsung ditempatkan di Skuadron 14 Lanud Iswahyudi, Madiun. Menjalani karier perdananya sebagai penerbang pesawat tempur, ia langsung dipercaya menungganggi F-5 Tiger.

Pada 2012, Andry mendapatkan tugas baru di Skuadron 11 Lanud Makassar. Di situlah Andry memulai perjalanannya menerbangkan pesawat Sukhoi. Ia memulai dari awal mengenal pesawat canggih ini hingga mencapai prestasinya meraih 1.000 jam terbang bersama Sukhoi saat ini.

“Saya tidak langsung menjadi seperti sekarang, tapi saya dikenalkan pesawat Sukhoi dari awal. Contohnya saya menjadi siswa konversi yaitu perpindahan dari pesawat lama ke pesawat baru. Otomatis banyak sekali yang harus saya pelajari, latihan setiap hari sehingga muncul reflek saya atau jika airmanship saya sebagai penerbang di pesawat Sukhoi,” paparnya.

Selama menerbangkan pesawat Sukhoi, Andry mengaku pernah terbang hingga ke luar negeri tepatnya di Darwin, Australia, untuk mengikuti kegiatan bersama penerbang dari sejumlah negara lain seperti Thailand, Malaysia, Singapura dan tuan rumah.

Selain ke Darwin, Andry juga pernah menerbangan Sukhoi di negara asalnya, Rusia, saat mengikuti pendidikan pada tahun lalu. Ketika itu, ia dipercaya mengawaki Sukhoi Su-27 UBK, yakni pesawat tempur upgrade dari Su-27 yang dirancang tidak hanya untuk melatih teknik pilot uji coba, navigasi udara dan penggunakan tempur, tetapi juga untuk menghancurkan target udara siang dan malam, dan kondisi cuaca buruk dan serangan terhadap target darat, unmanaged ASP.

Namun, di balik kebanggaannya ini, Andry juga merasakan duka. Ia sering meninggalkan keluarga demi menjalankan tugas negara. Apalagi, dia masih memiliki anak yang usianya masih bayi.

“Saya sering ninggalin istri,  ninggalin anak, kebetulan anak saya masih kecil sedang lucu-lucunya,” tuturnya.

Meski kini sudah 1.000 jam terbang bersama Sukhoi, Andry belum merasa puas. Justru raihan tersebut menjadi motivasinya untuk terus belajar bagaimana menerbangkan pesawat Sukhoi dengan baik. Ia mengaku masih banyak yang perlu digali, meski sudah berkali-kali menerbangkan pesawat Sukhoi.

Photo : Mayor (Pen) Andry Libarsyah Agung Nugroho saat ditemui di Shelter Lanud Tarakan, kemarin (11/7). (Prokal)

Sumber : Prokal

Advertisements

2 thoughts on ““Stellar” Raih 1000 Jam Terbang dengan Sukhoi”

  1. Dengan 1000 jam terbang, berapa biaya yg dikeluarkan utk bbm & maintenance pesawat ini ?
    Bukankah biaya terbang /jam sukhoi ini terkenal mahal, dan lifetimenya pendek.
    Penting sekali kah mengejar jam terbang 1000 jam, 2000 jam, dst. Apakah jadi jaminan combat skill si Pilot ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s