Perkiraan Biaya Daur Hidup Alutsista (Part 2)

Biaya awal pengadaan (Acquisition Costs) terdiri dari biaya penelitian dan pengembangan (R&D), Program Management, Engineering, produksi, suku cadang dan ST&TE (Special Tools and Test Equipment), pelatihan awal (initial training) serta data dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian Departemen Pertahanan Amerika Serikat, biaya awal pengadaan (Acquisition Cost) alutsista, biasanya berkisar antara 20 persen hingga 40 persen dari harga Life Cycle Cost secara keseluruhan.

Sehingga apabila diasumsikan harga fisik sebuah kapal korvet yang sudah jadi sebesar USD 300 juta, maka biaya maksimal (bila harga kapal adalah 20% dari total LCC), yang harus dikeluarkan pemerintah untuk membiayai kapal mulai saat pembelian kapal korvet tersebut hingga tetap dapat beroperasi, sesuai fungsi asasi adalah USD 300,000,000 X 5 = USD 1,500,000,000. Sedangkan biaya minimal (bila harga kapal 40% dari nilai total LCC), adalah sebesar USD 300,000,000 X 2,5 = USD 750,000,000. Artinya bila kita ingin memiliki kapal korvet tersebut, Pemerintah harus memiliki anggaran minimal USD 750 juta dalam menjaga daur hidup satu unit kapal korvet tersebut.

Berdasarkan katagori LCC, biaya pengembangan diperkirakan akan mencakup 25% dari keseluruhan anggaran daur hidup alutsista, biaya produksi membutuhkan persentase anggaran LCC sebesar 25%. Sedangkan pada tahap Operation and Support (O&S) yang merupakan tahapan terpanjang dalam daur hidup alutsista, akan mencakup 45% dari keseluruhan LCC alutsista.

Tahap penghapusan maksimal hanya membutuhkan alokasi 5% dari LCC. Hal spesifik yang perlu menjadikan perhatian adalah bahwa pada peralatan militer, persentase antara System Acquisition dan Operating & Support bervariasi, disesuaikan dengan kompleksitas dan kecanggihan sistem teknologi. Makin canggih dan kompleks alutsista, akan menyebabkan biaya operasional dan perawatan semakin besar.

Berdasarkan pengalaman pengadaan alutsista dari berbagai negara dunia termasuk di Indonesia, pengadaan persenjataan dan alutsista “bekas” terutama yang memiliki kompleksitas dan teknologi tinggi, sebaiknya dihindari. Apabila harus dilaksanakan, sebelumnya harus melalui perhitungan secara seksama, ditinjau dari aspek efektifitas dan efisiensi anggaran, Analisa Sistem Riset Operasi (ASRO), interoperability, communality dan LCC.

Pengadaan alutsista bekas kelihatannya menguntungkan, sederhana dan praktis, namun apabila dihitung berdasarkan aspek LCC, ternyata dapat menimbulkan kerugian bagi pihak pembeli yang besar, antara lain:

  • Pembeli tidak dapat mengikuti perkembangan pembangunan alutsista pada tahap acquisioton phase, sehingga kurang mendapat informasi berkaitan dengan pengetahuan awal operator untuk mengoperasikan dan memelihara alutsista tersebut;
  • Pembeli kehilangan jejak sejarah pembangunan alutsista dalam rangka melanjutkan periode sustaining phase;
  • Spesifikasi teknis, karakter dan daerah operasi alutsista yang dibeli, seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan operasi pembeli;
  • Sangat menyulitkan pelaksanaan Integrated Logistic Support (ILS), karena pembeli tidak mendapat informasi yang akurat tentang perawatan dilaksanakan, sebelum alutsista bekas tersebut diserahkan;
  • Tidak ada kepastian lanjutan daur hidup alutsista, sehingga biaya operasional selanjutnya bisa jadi akan lebih besar;
  • Dalam rangka operasional dan pemeliharaan, pengawak kurang memiliki perasaan kedekatan emosional dengan peralatan, karena menerima dalam kondisi “as it is”;
  • Industri dalam negeri kehilangan kemampuan penguasaan teknologi; (8) perlu tambahan alokasi anggaran untuk modifikasi dan modernisasi peralatan, agar sesuai kebutuhan operasional pihak pembeli.
kri-i-gusti-ngurah-rai-332-13
KRI I Gusti Ngurah Rai 332 (Piet Sinke)

Pertimbangan LCC

Alutsista merupakan sistem kesenjataan yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai disiplin ilmu, antara lain: pesawat tempur/terbang, helikopter, kapal perang, tank dan kendaraan tempur lainnya, peluru kendali, meriam dan lain-lainnya, perlakuan dan kebijakan terhadap alutsista sangat menentukan kualitas dan daur hidup aluststa. Dalam rangka meningkatkan kekuatan pertahanan suatu negara, dibutuhkan postur yang sesuai dalam menjaga stabilitas pembangunan nasional.

Dihadapkan kepada perkembangan lingkungan strategis dan kondisi alutsista saat ini, maka perlu penyesuaian alokasi anggaran pertahanan, penentuan prioritas dalam mewujudkan postur kekuatan pertahanan, dan penajaman pemilihan alutsista, antara lain melalui: (1) prioritas pengadaan alutsista bernilai strategis; (2) pemanfaatan satelit dan pesawat patroli maritim dalam rangka surveillance system; (3) menambah kemampuan deteksi coverage radar pertahanan udara dan deteksi laut; serta (4) menempatkan pulau-pulau terluar dan perbatasan wilayah sebagai komponen pertahanan strategis terluar, yang dilengkapi dengan alutsista andal.

Kebutuhan alutsista tidak hanya sekedar pengadaan dengan nilai tertentu, sesuai dengan kebutuhan operasi dan spesifikasi teknis yang diharapkan. Pada dasarnya ketersediaan alokasi anggaran pembangunan alutsista juga harus mempertimbangkan Life Cycle Cost (LCC). Kebijakan pengadaan alutsista bukan baru (bekas), kecuali mempersulit penghitungan alokasi anggaran dan merugikan profesionalisme pengawak, juga menghambat upaya penguasaan teknologi pertahanan.

Beberapa kejadian kecelakaan alutsista, sebagian juga diakibatkan oleh kebijakan pembelian alutsista bekas atau alutsista yang sudah terlalu tua. Perhitungan teori daur hidup (lifetime) dan LCC, dapat dimanfaatkan dalam menghitung kebutuhan anggaran pertahanan negara setiap tahunnya. Beberapa negara di dunia saat ini telah merampingkan alutsistanya.

Termasuk Angkatan Laut Malaysia (TLDM), yang telah mengurangi armada kapal perangnya menjadi hanya lima kelompok besar, sehingga menghemat biaya pemeliharaan dan perbaikan, yakni: (1) Littoral Combat Ships (LCS), (2) New Generation Patrol Vessel (NGPV), (3) Littoral Mission Ships (LMS), (4) Multi Role Support Ships (MRSS), dan (5) Submarines.

Hal tersebut dapat menjadi pertimbangan Pemerintah Indonesia dalam rangka memperkuat alutsista dalam aspek pengadaan, pemeliharaan dan peningkatan kualitas pertahanan negara.

Oleh Laksda TNI Agus Setiadji

Penulis adalah Lulusan AKABRI Laut tahun 1985, sekarang menjabat sebagai Sestama Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI.

Photo : KRI John Lie 358 (terephotograpy)

Sumber : Maritim News

Advertisements

3 thoughts on “Perkiraan Biaya Daur Hidup Alutsista (Part 2)”

  1. Disini mah blum kepikiran kearah situ…lha wong sekarang aja masih ngebet menuhin MEF alias numpuk kuantiti, hhh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s