Perkiraan Biaya Daur Hidup Alutsista (Part 1)

Keterbatasan alokasi anggaran pertahanan Pemerintah RI selama beberapa dekade turut menjadi faktor utama yang menghambat modernisasi baik di matra darat, laut maupun udara. Setelah tahun 1980-an, tidak dilaksanakan pengadaan-pengadaan alutsista baru yang memiliki nilai strategis dan mampu membuat detterent efect dalam rangka balancing power di kawasan. Pengadaan alutsista terbaru dalam 10-15 tahun belakangan ini hanya sekitar 19% dari total variasi sistem persenjataan TNI (Kemhan, 2014).

Peningkatan pembangunan kekuatan pertahanan, terutama yang berkaitan dengan alutsista tidak bisa dilaksanakan dengan terburu-buru serta tanpa melalui perencanaan strategis. Alat utama sistem senjata adalah peralatan persenjataan yang dimiliki militer dalam bentuk kesisteman yang mempunyai pengaruh terhadap tugas pokok kesatuan dan memiliki efek penggetar sesuai fungsi asasinya.

Berdasarkan proses pembeliannya, alutsista dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu alutsista barang jadi (ready used) dan alutsista berdasarkan pesanan pembeli (tailor made). Alutsista barang jadi merupakan alutsista yang sudah dilaksanakan proses penelitian dan pengujian oleh pabrik pembuat dengan spesifikasi khusus, sehingga proses pengadaannya dimulai pada saat kontrak ditanda tangani.

Walaupun termasuk ready used, jarang sekali ada alutsista baru yang tersedia di gudang (ready stock). Dikarenakan tingkat resiko dan harganya yang mahal, biasanya alutsista ini hanya  dibangun/dibuat apabila kontrak sudah efektif. Contoh alutsista barang jadi antara lain Main Battle Tank (MBT), Helikopter, Pesawat tempur, Peluru Kendali dan lain-lain. Sedangkan alutsista tailor made merupakan alutsista yang spesifikasi teknisnya ditentukan oleh pihak pembeli yang dikomunikasikan secara intensif dengan pelaksana kontrak, sehingga pada saat selesai pembangunannya, sudah sesuai kebutuhan operasi (operational requirement) dan spesifikasi teknis yang telah disepakati sebelumnya. Contoh alutsista tailor made adalah kapal perang klas korvet dan Perusak Kawal Rudal (PKR) Kapal Selam, Kapal Cepat Rudal dan lain-lain.

marder-yonif-mekanis-413-bremoro-credit-to-pen-divif-2-kostrad
Marder Yonif Mekanis 413 Bremoro. (Pen Divif 2 Kostrad)

Analisa LCC

Pengadaan alutsista harus memperhatikan fungsi yang diawali pada perencanaan, penentuan kebutuhan hingga tahap penghapusan pada daur hidup alutsista (Life Cycle Cost/LCC). LCC adalah proses yang lebih detail daripada sistem logistik, proses LCC dapat menentukan daur hidup alutsista, anggaran yang harus dikeluarkan dalam setiap pengadaan alutsista, mulai tahap awal sampai dengan masa penghapusan. LCC atau perkiraan biaya daur hidup sebuah peralatan, adalah teknik untuk memperkirakan total biaya kepemilikan peralatan selama masa pakainya, terdiri dari acquisition costs dan sustaining costs.

Acquisition cost adalah biaya awal yang dikeluarkan sampai dengan barang diserahkan (commisioning), sedangkan sustaining cost adalah biaya lanjutan agar material bisa bertahan sampai masuk tahap penghapusan. Tujuan LCC adalah untuk membantu pengambilan keputusan pemerintah terhadap manajemen peralatan sistem persenjataan. Pengambilan keputusan pengelola alutsista, dimulai dari tahap perencanaan, penganggaran dan pemilihan, penelitian dan pengembangan, pengadaan, konstruksi militer (Milcon), operasional alutsista termasuk juga pemeliharaan dan perawatan serta pada tahap penghapusan.

Adapun Product Lifecycle Management (PLM), didefinisikan sebagai sebuah proses untuk mengelola seluruh daur hidup produk mulai dari konsep, tahap desain, produksi, pemeliharaan, hingga kondisi produk tidak dapat digunakan kembali (Wikipedia, 2010). Definisi lain menurut Mulyadi (2001), Daur Hidup Produk (Product Life Cycle) adalah waktu suatu produk mampu memenuhi kebutuhan pengguna sejak lahir sampai diputuskan untuk dihentikan pengoperasiannya.

Perkembangan sistem manajemen sumber daya dan pesatnya kemajuan teknologi, menyebabkan LCC dianggap sebagai sebuah konsep yang dapat meningkatkan akurasi perhitungan biaya suatu produk termasuk persenjataan (alutsista). Definisi Life Cycle Cost adalah biaya yang bersangkutan dengan produk selama daur hidupnya, yang meliputi biaya pengembangan (perancanaan, desain, pengujian), biaya produksi, (aktivitas pengubahan sumber daya menjadi produk jadi) serta biaya dukungan logistik (distribusi, penyimpanan, maintenance, dan sebagainya).

Perhitungan pengadaan alutsista yang bersifat tailor made lebih rumit, bila dibandingkan dengan alutsista ready used. Pada alutsista yang ready used, sudah tidak memperhitungkan biaya berbagai aspek pendahuluan, antara lain Research and Development (R&D), product development dan production. Biaya yang muncul pada proses tersebut sudah diperhitungkan dalam totalitas nilai harga barang.

Namun demikian resiko pengadaan alutsista barang jadi (ready used), antara lain: (1) pembeli tidak bisa menentukan spesifikasi khusus sesuai kebutuhan operasi; (2) ketergantungan produksi kepada negara pembuat dan tidak bisa menuntut alih teknologi; (3) harga dikendalikan dan ditentukan oleh pihak produsen; (4) ketergantungan after sales services.

LCC adalah totalitas biaya yang harus dikeluarkan oleh pemilik/pengguna material, termasuk tahap perencanaan, pengadaan (kebutuhan operasi dan spesifikasi teknis), nilai material, biaya operasional, biaya pemeliharaan dan perawatan, kemungkinan upgrade dalam bentuk peningkatan kemampuan tempur Mid Life Modernization (modernisasi paruh waktu) atau System Lifetime Extension Program (Perpanjangan Usia Pakai) serta tahap penghapusan. LCC peralatan senjata dan alutsista, secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian pokok, yaitu biaya awal pengadaan material (initial cost) atau biaya pendahuluan (acquisition cost), serta biaya lanjutan (future cost /sustaining cost).

Biaya awal pengadaan (initial cost) dihitung mulai tahap perencanaan sampai dengan saat alutsista diterima (tahap commissioning), sedangkan biaya lanjutan (sustaining cost) mulai dihitung setelah material alutsista tersebut diterima sampai penghapusan.

pkr-sigma-10514-re-martadinata-331-di-armada-timur
PKR Sigma 10514 (defence.pk)

Klasifikasi LCC

Banyak negara di dunia mengelompokkan LCC menjadi beberapa tahapan, disesuaikan dengan sistem dan metoda penganggaran masing-masing negara, namun secara garis besar tidak terlalu berbeda. Berdasarkan penjelasan Defense Acquisition Guidebook (DAG) yang diterbitkan oleh Defense Acquisition University (DAU) Amerika Serikat, LCC diartikan sebagai nilai totalitas biaya peralatan, yang terdiri dari (1) biaya yang ditimbulkan selama fase awal (konseptual) termasuk fase penelitian dan pengembangan; (2) biaya selama proses pengadaan (investment cost); (3) biaya operasi dan dukungan pemeliharaan (operational & sustainment); sampai dengan (4) biaya penghapusan material. Biaya-biaya tersebut tidak hanya berupa biaya langsung fase acquisition saja, tetapi juga biaya tidak langsung lain di luar perkiraan yang mungkin terjadi (unpredictable cost) (DAU, 2012).

Life Cycle Cost berbeda dengan sistem logistik secara keseluruhan. LCC merupakan bagian dari sistem logistik, yang mengatur hal-hal tentang biaya daur hidup suatu peralatan termasuk alutsista (weapon system). Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah membuat standar definisi tentang katagori dan elemen yang berkaitan dengan sistem Life Cycle Cost alutsista (DoD 5000.04-M). Estimasi LCC yang dibuat oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, ditujukan untuk mengetahui kemungkinan biaya yang harus disiapkan terhadap pengadaan peralatan alutsista.

Menurut aturan tersebut, LCC dibagi menjadi empat kategori kegiatan utama, yaitu: (1) biaya penelitian dan pengembangan (RDT&E); (2) biaya investasi (investment cost) yang meliputi pengadaan, konstruksi militer serta akuisisi yang berkaitan dengan operasional dan maintenance (O&M) dihadapkan kepada kegiatan produksi dan distribusi peralatan; (3) biaya O&S (Operational & Sustaintment); dan (4) biaya penghapusan.

Sementara itu lembaga SPAR Associates Inc di Amerika Serikat, sedikit memisahkan tahap konseptual (penentuan kebutuhan) dari tahap acquisition, serta tetap membagi LCC menjadi empat kelompok, antara lain:

  • Tahap konseptual (conception stage), adalah tahap aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan, penentuan kebutuhan, penelitian dan pengembangan (R&D) yang meliputi pembuatan spesifikasi teknis (contract specifications), desain, pertimbangan ketersediaan anggaran yang dikaitkan dengan kebutuhan operasi dan kemajuan teknologi;
  • Tahap akuisisi (acquisition stage), adalah semua tahapan yang berkaitan dengan pembangunan/pengadaan alutsista sesuai dengan yang telah ditentukan pada tahap konseptual;
  • Tahap operasional dan pemeliharaan (in-service stage), adalah semua aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan operasi alutsista, dukungan logistik selama fase pemeliharaan serta peningkatan kemampuan, yang merupakan tahapan yang paling lama dalam perhitungan Life Cycle Cost (LCC); serta
  • Tahap penghapusan (disposal stage), merupakan tahapan penghapusan material alutsista.

Photo : Leopard 2 RI (defence.pk)

Next : Perkiraan Biaya Daur Hidup Alutsista (Part II)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s