Mengintip Kapal Perang INS Shivalik Milik India

WELCOME to the board, Ma’am!” sambut tiga anak buah kapal (ABK) berseragam putih. Jawa Pos baru saja menginjakkan kaki di atas Indian Navy Ship (INS) Shivalik Sabtu (3/6) pagi. Tepatnya pukul 10.37. Agak terlambat sedikit dari pembukaan open ship pukul 09.30.

Mulanya, satuan pengamanan kapal yang berjaga di bawah tangga menahan Jawa Pos sebentar. ’’Are you alone, Ma’am (apakah Anda sendirian, Red)?” tanyanya.

Dia bertutur, biasanya pengunjung INS datang berkelompok. Seperti rombongan siswa SMA berseragam biru-biru yang baru saja selesai tur ketika Jawa Pos tiba. Jawa Pos sempat khawatir tak diperbolehkan masuk. Petugas itu pun menawarkan bantuan. Dia memanggil salah seorang prajurit yang berjaga di atas kapal. ’’Yes, you can come in (Anda boleh masuk, Red),” ujarnya. Tak apa seorang diri. Prajurit di atas kapal siap mendampingi.

Setelah sambutan singkat dengan sikap hormat, prajurit bernama Pawan Sharma mengantar Jawa Pos ke bagian depan kapal. Di sana telah terpasang bendera dua negara, Indonesia dan India. Jangan bayangkan dek yang luas di areal itu. Sebab, bagian tersebut dipenuhi senjata. Pawan hanya menjelaskan secara singkat. Lengkapnya, dia serahkan kepada prajurit senior bernama Jay Kumar Rout. Dialah yang menerangkan persenjataan di bagian depan kapal. Lengkap dengan spesifikasinya.

Nah, inilah salah satu syarat jika ingin berkunjung ke INS Shivalik. Kemampuan listening bahasa Inggris harus apik. Sebab, prajurit seperti Rout menjelaskan dengan dialek India. Bila tidak terbiasa, pengunjung harus memastikan apa yang dia katakan agar tidak salah tangkap.

Bukan cuma masalah bahasa, pengunjung awam juga tidak bisa masuk sembarangan. Open ship INS tersebut memang ditujukan untuk umum. Namun, publik harus melewati pemeriksaan di depan pos Terminal Jamrud Utara. Setelah itu, ada lagi pemeriksaan oleh TNI-AL di dalam terminal. Tanpa izin jelas, warga tak mungkin bisa mendekati kapal perang berbendera India itu.

SONY DSC
INS Shivalik saat di Qingdao, China. (Embassy of India)

’’Shivalik is a fight ship or war ship,” jelas Rout. Kapal sepanjang 468 kaki itu memang merupakan kapal garda terdepan di antara empat kapal lain. Dia mempresentasikan foto kapal yang diambil di sudut 45 derajat di atas, lengkap dengan nama-nama senjatanya.

Kurang lebih ada empat jenis senjata jumbo yang terpasang di dek depan kapal. Bentuknya beragam. Ada yang menyerupai senapan laras panjang, rudal, serta revolver raksasa. Masing-masing diperuntukkan di medan yang berbeda. Ada yang untuk sasaran bawah air, permukaan air, dan udara. Jarak tembaknya pun beragam. Yang paling kecil bisa menembak objek lawan sejauh 25 kilometer. Sementara itu, senjata yang besar bisa melontarkan rudal hingga 220 kilometer.

Tak sampai di situ saja, masing-masing senjata juga terhubung ke radar di bagian tengah. Radar terdepan berbentuk seperti antena cekung yang disambungkan dengan senjata surface-to-surface. Itu adalah senjata untuk menghadapi musuh di permukaan air. Alat pendeteksi tersebut bisa menangkap objek maksimal sejauh 225 kilometer. Nah, semakin ke belakang, jangkauan radarnya semakin luas. Yang paling besar berbentuk layaknya panel surya, bisa mendeteksi objek hingga 300 kilometer.

Di antara empat kapal yang merapat, INS Shivalik dan INS Sahyadri punya spesifikasi sama. Hanya dua kapal itu yang dibuka untuk kunjungan sepanjang hari kemarin. Keduanya ’’diparkir” sejajar dan dihubungkan dengan jembatan kecil,sehingga pengunjung bisa mampir ke Sahyadri jika ingin. Namun, sebelumnya Pawan menawarkan untuk melihat-lihat dek belakang kapal.

INS SAHYADRI F49 (ShipSpotting)
INS Sahyadri F-49 (Ship Spotting)

Sambil berjalan, pemuda 21 tahun tersebut kembali menjelaskan senjata terdepan INS Shivalik. Senjata-senjata kelabu itu merupakan buatan Rusia. Awak kapal ternyata telah mempersiapkan label nama yang ditempel di setiap senjata untuk membantu pengunjung awam.

Pawan menggiring Jawa Pos melewati koridor-koridor kecil di dalam kapal. Di kanan-kiri koridor tersebut, cukup banyak pipa dan peralatan mesin yang menghiasi.

Meski banyak barang, bagian dalam kapal tampak tertata. Bahkan, awak kapal juga telah menyiapkan kunjungan secara maksimal. Di setiap persimpangan koridor, bakal ada patung kertas bergambar tentara India dengan tangan teracung ke arah rute tur. Tanpa didampingi pun, sebenarnya pengunjung tidak akan tersesat di dalam kapal.

Sampai di tengah kapal, kami memasuki sebuah ruangan dengan sekoci besar berwarna abu-abu hitam di dalamnya. ’’We have two small boats for emergency (kami punya dua sampan untuk darurat, Red),” terang Pawan. Masing-masing berada di lambung kanan dan kiri kapal.

Namanya memang small boat. Sampan kecil. Tapi, sampan itu bisa memuat puluhan orang. Dengan jumlah awak kapal sekitar 200 saja, ditambah bantuan perahu karet, kapal besar tersebut sudah punya alat penyelamatan yang cukup.

Jika dilihat dari luar kapal, dua sekoci itu terletak di bagian tengah, di balik plat berlubang-lubang kecil. Deretan plat abu-abu tersebut bisa dibuka, kemudian sekoci bisa diturunkan ke air.

Tur berlanjut. Kali ini, kami melewati koridor yang lebih terang daripada bagian dalam kapal yang lain. Di sisi-sisi koridor terpasang semacam mading. Majalah dinding. Foto-foto kegiatan prajurit angkatan laut India ditempel di sana. Baik kegiatan selama di kapal maupun saat bakti sosial di India. Beberapa foto menampakkan wajah kapten-kapten kapal Shivalik, berdiri gagah membelakangi matahari terbenam di tengah laut.

Jika tidak mampir-mampir, mungkin hanya butuh waktu satu menit untuk menyusuri kapal dari depan sampai dek belakang. Suasana dek belakang lebih ramai karena di sinilah pusat open ship mereka.

Dek yang biasa terbuka lebar itu dipayungi terop putih. Dek belakang memang lebih luas. Sebab, area tersebut sejatinya adalah tempat pendaratan helikopter. Ya, di bagian belakang kapal ada dua hanggar besar untuk parkir helikopter angkatan laut India.

Khusus untuk open ship kemarin, semua hanggar dibuka. Dua di antara empat hanggar Shivalik dan Sahyadri dikosongkan. Hanggar kosong Shivalik itu kemudian dimanfaatkan untuk berlatih musik.

Kelompok Indian Navy Band tampak berlatih di sana sepanjang open house. Drum band beranggota dua puluh orang tersebut memainkan sederet lagu populer India. Tak heran, sebelum naik ke kapal pun, Jawa Pos sudah mendengar samar-samar alunan Kuch Kuch Hota Hai dari atas kapal. Pada hari itu Indian Navy Band berlatih untuk persiapan penampilan di Taman Bungkul pukul 16.00 sorenya.

INS Shivalik Command Centre (Ajai Shukla)
INS Shivalik Command Centre (Ajai Shukla)

Pawan kembali melanjutkan tur yang belum selesai. Prajurit asal Agra itu menunjukkan helikopter yang parkir di hanggar sebelah kanan. Helikopter berwarna biru tua itu biasa mereka gunakan dalam melakukan pengintaian udara. Untuk memarkir helikopter tersebut, dek belakang dilengkapi rel khusus. Helikopter bisa langsung masuk ke hanggar dalam posisi sempurna.

Tur kapal perang itu ternyata tak memakan waktu terlalu lama. Yang lama justru ketika berbincang dengan awak kapal yang sedang bertugas. Sembari beristirahat di dekat meja snack, Pawan dan teman-temannya bertanya soal pendapat orang Indonesia tentang kapal India. Bahkan, lebih luas lagi, tentang India. Sebagai gantinya, mereka juga bercerita singkat tentang kehidupan sebagai prajurit angkatan laut.

Deepu, salah seorang rekan Pawan, bertutur, kehidupan di atas kapal tak pernah lepas dari tugas. Para prajurit juga dituntut untuk paham tentang teknis kapal. Selama di atas kapal, terkadang mereka juga mengikuti seminar atau pelajaran tentang angkatan laut. Sebab, sebagian di antara mereka masih berusia muda, seperti Pawan. Tak jarang, mereka juga harus membuat presentasi melalui PowerPoint. Seperti anak kuliahan.

Berhubung sedang kunjungan kenegaraan, awak kapal mendapat kesempatan untuk ’’pesta” sejenak. Tentu saja pesta ala angkatan laut di kapal. Selagi kapten dan pejabat senior melakukan kunjungan ke markas TNI-AL, anak buah kapal perang India mengundang perwira-perwira muda AL ke kapal mereka untuk ramah tamah.

’’Kami berpesta tadi malam,” cerita Deepu. Di sana, mereka menyuguhkan makanan-makanan India, seperti nasi kari, panir, dan roti nan.

Dari Shivalik, Jawa Pos bergeser ke Sahyadri di sebelah utara. Di sana sudah ada prajurit lain yang siap mengantar. Shalesh Rajeesh namanya. Sebelum memasuki koridor, dia menunjukkan area di samping persenjataan yang serupa dengan milik Shivalik. Jadi, di kanan-kiri senjata tersebut, ada semacam lobi panjang. ’’This is our catwalk,” kelakarnya.

Shalesh berujar, area itu kadang digunakan prajurit untuk berjalan ala model. Tentu saja itu mereka lakukan saat senggang.

Di belakang Sahyadri, seorang prajurit tinggi bernama Kuldeep telah menunggu. Tampak dua papan berisi foto-foto alam India berjejer di belakangnya. Kuldeep pun menjelaskan tentang tempat-tempat menarik serta flora dan fauna di negerinya. Di antara sembilan tempat wisata yang dia tunjukkan, nyaris semuanya sudah pernah dia kunjungi.

Kuldeep meyakinkan, wisatawan perlu berkunjung ke India. Sebab, negeri yang dijuluki benua kecil itu punya keunikan.

Kuldeep menjelaskan, India punya empat musim berbeda. Musim panas, musim dingin, musim hujan, dan musim gugur. ’’Dan, semuanya bisa terjadi sekaligus,” terang pria setinggi 188 sentimeter tersebut. Misalnya, saat India Utara sedang musim dingin, India Tengah mengalami musim gugur atau hujan. Sedangkan India Selatan bakal panas, nyaris sepanjang tahun.

Tur kapal perang pun berakhir tepat ketika jam tutup, pukul 12.00. Kunjungan hari pertama memang belum begitu ramai. Namun, Deepu dan kawan-kawan memaklumi jika banyak yang tidak bisa mengintip bagian dalam INS Shivalik dan Sahyadri. ’’Ini kan areal terlarang,” ujarnya. Namun, mereka sudah cukup senang menerima sambutan hangat dari orang Indonesia.

Photo : INS Shivalik saat bersandar di Terminal Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak. (Istimewa)

Sumber : Jawa Pos

Advertisements

2 thoughts on “Mengintip Kapal Perang INS Shivalik Milik India”

  1. Dek dianeko mo nipu simbah ya..itu gambar paling atas kan foto ins kamorta, gini2 simbah dulu pernah jd prajurit sepoy jadi paham soal beginian, hhhh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s