Indonesia Mendorong Universalisasi Konvensi Senjata Kimia

Pemerintah Indonesia telah mendorong dilakukannya universalisasi konvensi senjata kimia melalui promosi kerja sama internasional.

Bekerja sama dengan Organization on the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), Indonesia telah menyelenggarakan Forum Regional Penandatangan Konvensi Senjata Kimia di Asia Pasifik untuk membahas hal-hal terkait Bantuan dan Perlindungan untuk Oposisi terhadap Senjata Kimia, dikutip dari siaran pers yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Rabu.

Dilansir dari kantor berita Antara (25/05), Pertemuan tiga hari tersebut berakhir pada hari Kamis di Nusa Dua, Bali. Indonesia diwakili oleh Otoritas Nasional Chemical Weapons and the International Security and Disarmament of Weapon Directorate General of the Foreign Ministry and the Industry Ministry.

Muhammad Khayam mewakili Otoritas Senjata Kimia Nasional mengatakan pentingnya kerjasama internasional dalam mengantisipasi bahaya senjata kimia.

Khayam mengatakan perkembangan situasi global yang menunjukkan meningkatnya ancaman senjata pemusnah massal termasuk senjata kimia membuktikan pentingnya kerjasama internasional dalam mencegah penggunaan senjata kimia.

“Mengingat pentingnya pemenuhan kewajiban Konvensi Senjata Kimia sebagai bagian dari larangan global dan penghapusan semua senjata kimia, Konvensi harus diobservasi,” katanya.

Untuk memenuhi komitmennya, Indonesia sudah memiliki undang-undang No. 9 tahun 2008 tentang penggunaan bahan kimia dan larangan penggunaan senjata kimia.

Selain itu, pemerintah Indonesia telah membentuk sebuah unit khusus di militer nasional untuk menangani ancaman senjata nuklir, biologi dan kimia. Pemerintah juga telah membentuk Otoritas Senjata Kimia Nasional melalui Peraturan Presiden No. 19 tahun 2017.

Pertemuan senjata kimia di Bali dihadiri oleh 30 delegasi dari 16 negara di Asia Pasifik termasuk Afghanistan, Bangladesh, Brunei Darussalam, Kepulauan Cook, China, India, Iran, Irak, Fiji, Malaysia, Maladewa, Qatar, Arab Saudi, Sri Lanka, Vietnam dan Indonesia.

Pertemuan tersebut adalah untuk mempromosikan kapasitas penandatangan Konvensi Senjata Kimia dalam reaksi darurat untuk menghadapi kemungkinan serangan senjata kimia dan kebocoran bahan kimia berbahaya.

Seperti yang digariskan dalam Bab 10 Konvensi Senjata Kimia, penandatangan memberi ruang untuk kerja sama dalam melindungi diri mereka sendiri dan dalam meningkatkan kesiapan mereka terhadap serangan senjata kimia.

Konvensi Senjata Kimia adalah konvensi internasional mengenai larangan, pengembangan, produksi, penumpukan dan penggunaan senjata kimia serta penghancuran senjata.

Sampai saat ini, 192 negara telah meratifikasi konvensi tersebut. Indonesia meratifikasi Konvensi Senjata Kimia melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1998 dan secara resmi telah menjadi anggota Konvensi sejak 12 Desember 1998.

Photo : Pasukan Anti Nubika (E-International Relations)

Editor : (D.E.S)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s