Pemerintah Indonesia Bongkar Stasiun Internet Malaysia di Natuna dan Anambas

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengecek secara langsung server dan kabel fiber optik bawah laut milik perusahaan telekomunikasi PT. Sacofa asal Malaysia. (penum)
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengecek secara langsung server dan kabel fiber optik bawah laut milik perusahaan telekomunikasi PT. Sacofa asal Malaysia. (penum)

Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan stasiun labuh serat optik bawah laut milik perusahaan komunikasi Malaysia, Sacofa, di Natuna dan Anambas dibongkar. 

Keputusan itu dikeluarkan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Tonny Budiono tertanggal 4 Mei 2017 lewat surat persetujuan prinsip.

Dalam surat yang diterima KORAN SINDO BATAM kemarin, penghapusan titik stasiun labuh kabel fiber optik bawah laut itu juga memperhatikan rekomendasi Menteri Koordinator Hukum dan HAM Indonesia.

Dua stasiun labuh yang akan dibongkar berada di Pulau Tarempa, Anambas dan Penarik, Natuna. Sacofa dan Sarawak Gateway Sdn Bhd wajib membongkar stasiun labuh dengan berkoordinasi dengan TNI dan otoritas Pelabuhan Tarempa.

Kemenhub dan Kemenkumham memutuskan stasiun dibongkar karena stasiun melanggar kedaulatan, membahayakan keamanan negara dan melanggar hukum laut internasional UNCLOS.

Keputusan pemerintah ini juga perkembangan dari langkah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang menyegel stasiun labuh itu pada 6 April lalu. Stasiun berpotensi menjadi instalasi strategis sebagai alat mata-mata. Ada kemungkinan bila kabel dikonstruksi dengan alat sensor menjadi pendeteksi kapal di permukaan dan kapal selam.

“Kabel fiber optik dan server langsung terkoneksi dengan satelit. Jika ditambah beberapa alat, teknologi stasiun ini bisa mendeteksi semua gerakan di laut kita,” ungkap Gatot saat menyegel stasiun April lalu.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Anambas, Jeprizal, mengatakan sudah menerima surat dari Dirjen Hubla itu. Dari informasi yang dia terima, tim dari Jakarta akan datang ke Anambas pada Selasa (24/5) pekan ini. “Kami tunggu kementerian datang karena kami yang akan mendampingi pembongkaran,” ungkap dia kemarin.

Sebagai gambaran, kabel serat optik bawah laut atau East-West Submarine Cable System (EWS) milik Sarawak Gateway mendapat izin pada 14 Juni 2002 silam dari Dirjen Hubla. Proyek selesai dua tahun kemudian. Kabel terbentang dari peninsula Malaysia Barat (Mersing), Anambas, Natuna dan Malaysia Timur (Kucing). Sacofa lalu membeli Sarawak Gateway dan menjadi operator EWS.

EWS sendiri menjadi jaringan untuk memperkuat telekomunikasi dan kapasitas internet Sarawak, Malaysia. EWS menggunakkan dua stasiun darat di Natuna dan Anambas untuk memperkuat sinyal, menstabilkan bandwith dan memperluas jaringan di Sarawak.

26 November 2016, izin Sacofa sudah habis masanya dan mengajukan perpanjangan izin. Jaringan sempat offline sampai akhirnya beroperasi lagi pada 13 Maret 2017 setelah Sacofa mendapat izin dari Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Sumber : Sindo Batam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s