TNI AU Usulkan Pangkalan Udara Baru di Batam

Perintah Joko Widodo untuk meningkatkan kehadiran TNI di daerah perbatasan demi kedaulatan nasional bukanlah lelucon.

Akhir tahun lalu, sebuah rencana dibuat untuk membentuk sebuah pangkalan militer utama bersama di perairan Natuna, di provinsi Kepulauan Riau, awal pembangunannya telah dimulai.

Baru-baru ini, terungkap bahwa Angkatan Udara Indonesia telah mengusulkan untuk mendirikan sebuah Pangkalan Angkatan Udara baru di Bandara Internasional Hang Nadim di Batam, juga di Kepulauan Riau.

Sementara Natuna yang merupakan wilayah terluar Indonesia, yang berhadapan langsung dengan Laut China Selatan, di mana perselisihan wilayah antara negara-negara di kawasan ini telah berlangsung bertahun-tahun, Batam merupakan titik terdekat ke Singapura, hanya 20 kilometer dari pantai selatan negara bagian itu.

Jika direalisasikan, pangkalan udara baru di Batam akan menjadi pangkalan Angkatan Udara ketiga di provinsi tersebut setelah pangkalan Raja Haji Fisabilillah di Tanjung Pinang dan pangkalan Raden Sadjad di Natuna.

Hang Nadim Airport in Batam, Riau Islands. (JP)
Hang Nadim Airport in Batam, Riau Islands. (JP)

Manajemen Hang Nadim mengklaim telah menerima sebuah proposal dari Angkatan Udara untuk plot 2 hektar di kompleks bandara, untuk pengembangan pangkalan jet tempur, yang mencakup sebuah apron dan sebuah hanggar yang mampu menampung empat jet tempur F-16.

“Angkatan Udara, melalui markasnya di Tanjung Pinang, mengirimkan proposal tersebut pada bulan Maret. Kami belum meresponsnya, karena kami akan membentuk tim khusus,” kata manajer operasi umum Hang Nadim, Suwarso kepada The Jakarta Post pada hari Selasa.

“Alasan untuk mengembangkan (pangkalan udara) di Hang Nadim adalah demi kedaulatan negara dan untuk mendukung akses jet tempur ke Natuna, terutama karena posisi strategis Batam,” tambahnya.

Suwarso mengatakan tim khusus akan mempelajari semua aspek yang terkait dengan proposal tersebut, karena hal itu dapat mempengaruhi status bandara sebagai bandara alternatif untuk Singapura dan Malaysia berdasarkan kesepakatan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

“Penerbangan komersial sejauh ini menggunakan Hang Nadim sebagai bandara alternatif jika mereka tidak dapat mendarat di Changi Singapura. Dengan kehadiran jet tempur, mereka mungkin tidak lagi menggunakan Hang Nadim,” katanya.

“Pembicaraan saat ini dipegang di tingkat pimpinan Otoritas Kawasan Perdagangan Bebas Batam sebagai pemilik bandara ini,” tambahnya.

Dia mengatakan bahwa, sebagai bandara alternatif, Hang Nadim bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 3 miliar dari biaya pendaratan dan parkir per tahun.

Pangkalan Angkatan Udara di Tanjung Pinang tidak menanggapi permintaan komentar pada Selasa siang.

Juru bicara Angkatan Udara Pertama Marshall Jemi Tri Sonjaya juga tidak bersedia memberikan komentar mengenai masalah tersebut.

Di akun Twitter-nya @_TNIAU, Angkatan Udara pada hari Selasa memuat sebuah pesan yang berbunyi: “TNI AU & TNI AL sdh memiliki pangkalan di Tj.Pinang, kalau ada renc perkuatan di Batam pstnya sdh melalui pertimbangan krn berbtsn dg SIN”

F-16 V with TNI AU livery color, JDAM, AMRAAM 120 D and AIM 9X along with Sniper ATP (defence.pk)
F-16 V with TNI AU livery color, JDAM, AMRAAM 120 D and AIM 9X along with Sniper ATP. (defence.pk)

Pakar hukum internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan bahwa dia menyambut baik usulan tersebut, karena akan membantu pemerintah memperbaiki pengawasan di wilayah luar dan daerah perbatasan, misalnya untuk mengatasi pelanggaran yang semakin besar oleh asing.

Hikmahanto juga sepakat bahwa pangkalan baru di Batam akan membantu meningkatkan mobilitas pesawat Angkatan Udara di daerah tersebut.

Di bawah “nine-dash territorial line”, China mengklaim perairan Natuna sebagai tempat penangkapan ikan tradisionalnya, sementara Zona Identifikasi Pertahanan Udara Laut China Timur juga mengabaikan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

“Angkatan Udara kami membutuhkan hanggar dan pangkalan untuk jet tempur agar lebih dekat ke Natuna untuk mendukung kegiatan mereka di sekitar perairan Natuna,” kata Hikmahanto, sebagaimana dilansir dari The Jakarta Post (03/05).

Photo : F-16 V with TNI AU livery color, JDAM, AMRAAM 120 D and AIM 9X along with Sniper ATP. (defence.pk)

Editor : (D.E.S)

Advertisements

8 thoughts on “TNI AU Usulkan Pangkalan Udara Baru di Batam”

  1. Kalau mau dekat ke natuna kenapa nggak meningkatkan base tni au di lanud liku. cuma 20 menit dari lanud liku milik tni au di sambas.

    Like

  2. @admin

    Siapa ini yang usil merubah tampilan viper, dri dulunya yg menenteng 4 biji aim-9x jadi 2xaim-9 dan 2 amram…?

    Like

  3. yaa selalu mendukung deh apa yang menjadi rencana dari TNI namun yang tak kalah pentingnya untuk armada pespur, radar, pertahanan udara dll ditambah juga, yang paling utama agar disejahterakan juga untuk prajurit penjaga perbatasan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s