Update CN-235 PT Dirgantara Indonesia

Indonesian Aerospace (PTDI) terlihat sebagai sosok yang ‘pendiam’, kecuali jika Anda mengunjungi perusahaannya secara langsung di Bandung, di sebelah barat pulau Jawa, atau sebaliknya jika mereka melakukan pameran di air show seperti pameran Langkawi International Maritime and Aerospace 2017 di pulau Langkawi, Malaysia.

Dalam pameran tersebut, PTDI secara energik memasarkan pesawat misi khusus turboprop CN-235. Perusahaan membangun CN-235 dengan lisensi dari Airbus. Perusahaan Indonesia telah mengerjakan dua batch pesawat patroli maritim CN-235MPA di bawah kontrak Maritime Patrol-1 (MARPAT-1) dan MARPAT-2 di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Pesawat ini akan digunakan untuk mengatasi pembajakan, penyelundupan, human-trafficking dan penangkapan ikan ilegal yang sekarang menjadi prioritas utama negara kepulauan terbesar di dunia itu.

Dlansir dari Asian Military Review (05/04), Batch pertama dari tiga CN-235MPA untuk Angkatan Laut Indonesia (TNI Angkatan Laut) telah terintegrasi dengan muatan FLIR Systems Star Safire-III optronics dan sistem misi Thales AMASCOS. Ketiga pesawat ini sekarang beroperasi di Skuadron 800 TNI-AL di Surabaya, Jawa Timur.

Batch kedua yang terdiri dari tiga pesawat dimulai pada tahun 2014, terlihat integrasi radar pengintaian udara Telephonics AN/APS-143C(V)3 Ocean Eye X-band (8.5 Gigahertz/ GHz to 10.68GHz) dan sistem Star Safire -III untuk dua CN-235MPA Angkatan Laut dan satu contoh untuk Angkatan Udara Indonesia (TNI AU).

Pekerjaan dimulai pada tahun 2015 dan selesai pada akhir 2016. Namun, contoh TNI-AU juga dilengkapi dengan Leonardo SAGE electronic support measure. Sistem SAGE memungkinkan TNI-AU mendeteksi dan menemukan sistem radar yang berpotensi mengancam.

Ada permintaan terkait armada CN-235MPA TNI-AU pertama, yang dikirim pada tahun 2007 agar di-upgrade seperti saat ini, mungkin dengan sistem serupa, mungkin termasuk SAGE, namun sejauh ini belum ada kontrak yang ditandatangani. Pesawat ini adalah satu dari tiga pesanan pada tahun 1996 yang harus dilengkapi dengan sistem Thales AMASCOS. Namun hanya satu pesawat yang pernah dikirim (pada tahun 2007) karena krisis keuangan Asia 1997 yang melihat devaluasi rupiah Indonesia. Dua pesawat dikirim dalam konfigurasi transportasi.

Sementara itu, Ade Yuyu Wahyuna, wakil presiden bidang pengembangan dan pemasaran bisnis PTDI sangat antusias untuk menunjukkan keberhasilannya baru-baru ini, di bidang lain bisnis CN-235.

Perusahaan terus memasarkan pesawat anti-kapal selam CN-235ASW yang bekerja sama dengan Turkish Aerospace Industries, PTDI mendapat kontrak dari Angkatan Laut Turki untuk enam CN-235ASW. Perusahaan melakukan modifikasi pesawat terbang dan perakitan aircraft’s magnetic anomaly detector boom.

Selain itu, dalam kemitraan yang tidak disengaja, PTDI bekerja dengan divisi ELTA Systems Israel Aerospace Industries (IAI) terkait akuisisi empat pesawat pengintai maritim CN-235-220MSA Republic of Korea Coast Guard antara tahun 2011 dan 2012. PTDI membangun radome pesawat agar mampu membawa IAI EL/M2022 X-band airborne surveillance radar.

Photo : CN-235 220 MPA TNI AL (aviation)

Editor : (D.E.S)

Advertisements

3 thoughts on “Update CN-235 PT Dirgantara Indonesia”

  1. “kemitraan yang tidak disengaja”. hahaha. nice words, sering sering aja.hehhe. tidak ada y meragukan kehandalan industri pertahanan milik israel.hehe.
    y penting maju terus pt di.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s