Indonesia Mencari Kapal Selam ‘Green Water’

Program kapal selam Indonesia telah ditanggapi dengan skeptis (kecurigaan) sejak Jakarta mengambil langkah konkret pertama untuk meningkatkan kemampuan militer bawah air lima tahun yang lalu. Angkatan Laut Indonesia berkomitmen untuk menanggulangi pembajakan, penangkapan ikan ilegal dan terorisme maritim di perairan dangkal sedangkan disisi lain Indonesia bukan merupakan kekuatan Angkatan Laut konvensional di laut lepas.

Dengan demikian, kondisi geografis dan sifat alami negara kepulauan merupakan ancaman keamanan sebenarnya yang harus dihadapi Indonesia di laut dan dari laut, dikombinasikan dengan anggaran terbatas, Jakarta harus berinvestasi lebih banyak dalam hal kapal permukaan daripada di kapal selam.

Kerjasama industri antara galangan kapal milik negara Indonesia, PT PAL, dan galangan kapal Perancis DCNS berkaitan erat dengan inkonsistensi penumpukan angkatan laut negara Asia Tenggara.

Pada tanggal 30 Maret, selama kunjungan Presiden Prancis François Hollande ke Jakarta, PT PAL dan DCNS menandatangani nota kesepahaman untuk memperpanjang kerjasama mereka, untuk menawarkan kapal selam baru kepada Angkatan Laut Indonesia dan, pada tahap berikutnya, fregat dan korvet.

Secara khusus, dua kontraktor pertahanan ini memiliki tujuan untuk membangun kapal selam multiperan di Indonesia dari generasi terbaru Scorpene DCNS, yang mampu beroperasi di perairan dangkal (green water) dan peraian dalam (blue water).

DCNS bukan mitra baru di wilayah Indo-Pasifik. DCNS bekerja sama dengan Australia untuk mendukung Future Submarine Program dan menyediakan 12 kapal selam Shortfin Barracuda untuk Angkatan Laut Australia. DCNS juga membangun enam Scorpene untuk India bekerjasama dengan perusahaan pertahanan berbasis di Maharashtra, sementara Delhi berencana kembali membeli tiga kapal selam jenis ini, menurut laporan surat kabar The Hindu.

kapal selam DCNS_Scorpene_100_SSK_IndoDefence_2014
Scorpene 1000 tampil di Indodefence 2014 (Navy Recognition)

Kemampuan green water Scorpene

Salah satu aset utama kapal selam Scorpene adalah penyebaran yang mudah di perairan dalam (blue water) dan kemampuannya untuk tetap menyelam dan tidak terdeteksi di perairan dalam untuk waktu yang lama. Dalam hal ini, kapal selam Perancis terutama diproyeksikan untuk melindungi laut teritorial dan zona ekonomi eksklusif suatu negara, memainkan peran penting dalam menghalangi potensi agresi.

Ketika ditanya oleh Asia Times tentang kapasitas green water Scorpene, DCNS menjawab bahwa kapal selam “disesuaikan untuk melawan pelanggaran dan pembajakan berkat teknologi siluman yang sangat baik, sensor modern dan kemampuan deteksi yang luar biasa, serta sistem informasi dan komunikasi yang cocok untuk tindakan terkoordinasi.”

Dalam pandangan DCNS, kapal selam Scorpene akan memberikan solusi yang konsisten untuk misi anti-pembajakan Angkatan Laut Indonesia karena mampu “melihat tanpa terlihat dan mengumpulkan informasi yang sensitif untuk mengantisipasi serangan potensial di masa depan.”

Selanjutnya, produsen pertahanan Perancis mengatakan Scorpene “dapat mempersiapkan tindakan terkoordinasi dengan unit-unit operasional lain seperti polisi atau keamanan sipil, sehingga dapat mengidentifikasi waktu yang cocok untuk bertindak, dan selanjutnya menyebarkan pasukan khusus.”

Kapal Selam Proyek 636 Varshavyanka
Varshavyanka Rusia (istimewa)

Penumpukan Kekuatan Angkatan Laut Indonesia

Dalam program Minimum Essential Force, Jakarta memiliki proyek untuk membangun armada bawah air dengan kekuatan 10 sampai 12 kapal selam. Angkatan Laut Indonesia kini memiliki dua kapal selam kelas Cakra, varian Type 209 Jerman.

Pada tahun 2012, PT PAL dan Daewoo Shipbuilding Korea Selatan menandatangani kesepakatan untuk mengembangkan tiga kapal selam serang, dimana pembangunan masih berlangsung. Selain itu, Jakarta sedang mencoba untuk mengembangkan kapal selam tak berawak yang mampu beroperasi di kedalaman 150 meter.

Terlepas dari Scorpene Perancis, Jakarta sedang dalam pembicaraan dengan Rusia untuk mengakuisisi dua kapal selam diesel-listrik kelas Varshavyanka, menurut laporan media Rusia baru-baru ini. Ini masih harus dilihat apakah kapal selam Varshavyanka akan menjadi alternatif atau pelengkap untuk Scorpene dalam perhitungan Indonesia.

Faktanya, kapal selam ini dirancang untuk misi anti-kapal dan anti-kapal selam di perairan pantai, ini memberikan bukti lebih lanjut terkait kepentingan Indonesia dalam memperkuat potensi green water-nya, sebagaimana dilansir dari Asia Times (15/04).

Photo : Kapal Selam KRI Nagapasa 403 TNI AL (defence.pk)

Editor : (D.E.S)

Advertisements

7 thoughts on “Indonesia Mencari Kapal Selam ‘Green Water’”

  1. U-210 mod sbg suksesor tipe U-210 tampaknya sepi peminat, begitu juga kasel S-1000 (itali-russo) yang menjadikan scorpene-1000 melenggang bebas dikelas ini

    Like

  2. hahaha beli kapal selam untuk menangkal pembajakan ?? kapal selam itu untuk intelijen + tenggelamkan kapal musuh bukan pembajakan atau terorisme

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s