Kebutuhan Senjata Militer Asia Meningkat

Penembak jitu dan pasukan kontraterorisme Asia mempersenjatai diri mereka dengan senjata yang berbeda untuk menanggulangi ancaman modern, beberapa vendor persenjataan menjadi sorotan di Pameran Milipol Asia-Pasifik 2017 di Singapura.

Scott Fraser, direktur regional dari penjualan pertahanan global SIG Sauer, mengatakan, “Apa yang kita pelajari dari Afghanistan adalah bahwa senapan bolt-action memberikan akurasi yang lebih baik untuk jarak menengah dan jauh, tapi senapan karabin sniper lebih efektif dalam perang perkotaan di mana biasanya memiliki jarak sekitar 100 m.”

Dilansir dari Shephard (05/04), SIG Sauer 716G2 (Gen 2) yang didesain untuk penembak jitu adalah hasil dari penggabungan yang diminta oleh militer dengan keandalan, akurasi dan kapasitas magazine yang lebih baik.

Fraser juga mengatakan senjata kaliber 7.62mm NATO lebih disukai dalam pertempuran hutan karena mampu memotong vegetasi dengan kekuatan lebih besar dibandingkan senjata kaliber 5.56mm.

Pasukan khusus Indonesia saat ini menggunakan senapan ini dan pelanggan potensial selanjutnya adalah Korea Selatan dan pasukan Asia lain yang tidak disebutkan namanya.

SIG Sauer 716G2 (Gen 2) (shephard)
SIG Sauer 716G2 (Gen 2) (shephard)

Sven F.S De Souter, manager director untuk Glock Asia-Pasifik, menunjukkan perkembangan lain. “Tren di sini adalah lebih kepada operasi kontraterorisme dan pasukan khusus sekarang mulai berpindah dari revolver ke pistol.”

Dia menambahkan bahwa unit SWAT semakin banyak mengadopsi competition-grade Glock 34 karena kapasitas magazine yang lebih besar dan kemudahan penembakan.

“Kami fokus kepada banyak negara di dunia, seperti Filipina dan Thailand, kemudian India dan Pakistan juga penting,” katanya.

Satu-satunya hal yang menghentikan Glock sekarang adalah izin ekspor dari Austria atau AS ke pasar tertentu seperti Myanmar dan China.

Souter juga mengisyaratkan bahwa Glock akan mengungkap pistol dengan fitur dan inovasi baru tahun depan.

Kecenderungan lain adalah pasukan kontraterorisme yang mempersenjatai diri dengan senjata yang tidak mematikan seperti X2 Taser bersama senjata api standar untuk menghadapi ancaman seperti individu yang membawa pisau.

Nathan Sawtell, manager director Asia-Pasifik Taser, mengatakan banyak lembaga di Milipol telah menyatakan minat terhadap senjata tersebut, yang akan digunakan untuk menahan tersangka tanpa melukai atau membunuh mereka.

Photo : SIG Sauer 716G2 (Gen 2) TNI (defence.pk)

Editor : (D.E.S)

Advertisements

2 thoughts on “Kebutuhan Senjata Militer Asia Meningkat”

  1. tergantung usernya juga, kalau mau melubangi pohon mungkin pakai 7,62 mm kalau mau nembak target dekat cukup dengan 5,56 mm.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s