Pesawat Tanpa Awak dan Pesawat Gelap Kerap Melintas di Wilayah ALKI II

Sejumlah pesawat militer, pesawat tanpa awak, dan pesawat gelap disebut kerap melintas di wilayah alur laut kepulauan Indonesia II. Seperti di Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, dan Selat Lombok. Mayoritas armada burung besi itu berasal dari Australia dan Amerika Serikat.

Hal ini dibenarkan Mayor Pnb Setyo Budi saat ditanya wartawan di Skadron Udara (Skadud) 11 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, kemarin. Skadud 11 merupakan home base 16 pesawat tempur Sukhoi tipe 27 SK dan 30 MK.

“Selain itu, kita juga sering melakukan operasi hingga ke Kupang, Jayapura, dan Tarakan. Seluruh pesawat yang melanggar batas udara itu biasanya memanfaatkan daerah yang tidak terdeteksi radar,” ujar Setyo, di sela-sela acara Press Tour ‘Media Dirgantara 2017’ yang diselenggarakan Dinas Penerangan TNI-AU.

Setyo yang juga pilot Sukhoi mengakui sejauh ini ada 4 unit Sukhoi yang statusnya dalam perawatan. Sisanya tetap beroperasi seperti biasa. Meski demikian, minimnya armada tersebut dinilai tidak menghambat tugas pengamanan wilayah perairan dan udara.

Pengamanan wilayah pun diperkuat dengan pelibatan pesawat pengintai yang berada di Skadron Udara 5/Intai Strategis. Di sana ada 4 pesawat jenis Boeing 737-200 dan 1 unit CN 235 MPA buatan PT Dirgantara Indonesia (DI).

Selain mengintai, armada di Skadud 5 diberi mandat untuk melaksanakan operasi SAR serta mengambil foto udara dari jarak 35 ribu kaki, khususnya terhadap sejumlah kapal asing ilegal yang melintas di perairan Indonesia.

Sukhoi TNI AU 40
Sukhoi dalam latihan Sriti Gesit 2017 (tribun timur)

“Pelanggaran biasanya merata, tetapi paling banyak di Selat Malaka. Kenapa? Karena wilayah itu berbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Kapal asing itu kita foto dan informasinya diteruskan ke pihak berwenang,” kata Komandan Skadron Udara 5 Letkol Pnb Akal Juang.

Masih di lokasi yang sama, TNI AU juga selalu memonitor pergerakan pesawat dan objek bergerak menggunakan radar jarak pendek atau sensor unit buatan Swiss. Tugas pemantauan itu berada di bawah kendali Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) 472, Komando Korps Pasukan Khas.

Komandan Denhanud 472 Mayor Pas Verial Tunruribela mengatakan pihaknya juga memiliki beberapa alutsista penunjang, seperti dua meriam otomatis, pos komando, truk pengangkut, serta sejumlah rudal Chiron buatan Korea Selatan dan rudal QW3 yang dikirim dari Tiongkok.

“Untuk menunjang operasional, kita berharap bisa terintegritas dengan Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional). Saat ini kita masih di bawah (Korps) Paskhas.”

Photo : Sukhoi TNI AU (antara)

Sumber : Metronews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s